Media Kreativitas, Untuk Menunjukkan Eksistensi

Resensi Novel: Tempurung



Menilik buku ini, seperti mendengar hitam-putih kehidupan perempuan. Perlakuan yang diterima perempuan disaat mereka dewasa dan memulai suatu hubungan dengan lelaki. Gambaran tentang kehidupan perempuan setelah menikah dikisahkan sangat dramatis, dimana perempuan-perempuan yang diceritakan memiliki hubungan rumah tangga yang tidak harmonis. Perlakuan terhadap perempuan dengan semena-mena dengan mengganggap perempuan sebagai mahluk lemah yang dapat diperlakukan tidak adil.
Ketidakadilan digambarkan dengan perlakuan suami yang melakukan selingkuh, perempuan hanya sebagai oknum yang melahirkan anak, perempuan adalah ibu artinya melahirkan, membesarkan dan mendidik anak. Peran ini adalah tanggung jawab sepenuhnya yang di pikul oleh perempuan. Perlakuan yang tidak adil terhadap perempuan membuat sebagian perempuan sadar akan kondisinya. Sehingga ada yang memutuskan untuk memilih tidak menikah atau memilih pasangan sejenis (perempuan/lesbian).
Terdapat juga anggapan bahwa lelaki itu adalah binatang penyiksa perempuan. Bahkan perasaan ini ditemui oleh seorang anak gadis yang merasa tidak mendapat perhatian ayahnya. Untuk mengingat wajahnya saja dia tidak bisa, oleh karena ayahnya tidak pernah bercanda atau melakukan sesuatu terhadap putrinya. Ayahnya yang selalu focus terhadap karier dan buku-bukunya dan menyampingkan masalah keluarga, termasuk dalam mendidik anak. Sekalipun anak mencoba menarik perhatian si ayah, akan tetapi ayah tidak memberi respon. Pada akhirnya yang mengambil posisi untuk mendidik anak diambil alih oleh si ibu.
Suatu pelajaran yang menarik dari buku ini bagi saya adalah sikap dari ibu rosa dalam membimbing rosa anaknya. Kata-kata yang sering diulang ketika rosa mempertanyakan kebahagian rumah tangga dan cinta ayahnya kepada ibunya. Jawaban yang lantas diberikan ibunya adalah kau akan belajar ketika kau akan mengalami peristiwa itu sendiri. Bagaimana nanti sikap mu terhadap anak mu dan bagaimana nanti perlakuanmu terhadap orang yang berada disekitarmu.
  
Kritik
Dari semua pengalaman perempuan yang diceritakan dalam novel ini tidak ditemukan cerita keluarga yang harmonis. Menitik beratkan bahwa dunia perempuan seolah dunia yang terpisah dari lelaki, membuat perempuan membenci laki-laki karena perlakuan yang tidak adil.
Perlu digaris bawahi dalam setiap pengalaman yang diceritakan bahwa laki-laki disebutkan tidak bertanggung jawab dengan tidak menafkahi keluarga. Artinya ketika disebutkan bahwa laki-laki tidak bertanggung jawab, berarti ada anggapan bahwa seharusnya laki-laki lah yang bertanggung jawab untuk menghidupi keluarga. Melihat pandangan ini artinya penulis novel sepakat bahwa yang menjadi penentu dalam sebuah keluarga termasuk dalam menafkahi adalah laki-laki. Sebab, apa salahnya jika perempuan yang menafkahi rumah tangga. Adakah yang harus dipersoalkan, bukankah dengan demikian berarti sistem partriarki itu tidak akan utuh selamanya.
Secara keseluruhan cerita yang digambarkan dalam novel tempurung ini mengambarkan bahwa perempuan bisa dikatakan tidak memiliki pendirian sama sekali. Mereka juga butuh cinta, anak, keluarga dan sentuhan akan tetapi beranggapan akan mendapat semua itu dari laki-laki. Pola pemikiran yang tidak konsisten ketika perempuan itu remaja dan mendapat perlakuan yang kurang baik dari laki-laki dia memutuskan untuk tidak menikah. Akan tetapi setelah dewasa pada akhirnya dia memilih untuk menikah. Kasus lain ketika perempuan itu diperlakukan dengan tidak baik dia juga berlaku seperti itu,  misalkan saja dengan menelantarkan anaknya sendiri atau melacurkan dirinya demi uang. Padahal jika dia ikut melacurkan dirinya artinya dia juga bisa berakibat menghancurkan  hubungan rumah tangga orang lain setidaknya.
Dari persoalan setiap keluarga yang menjadi korban tetap adalah anak-anak. Anak dalam keluarga itu menjadi korban yang tidak tahu menahu sebabnya. Pola perilaku yang ditunjukkan orang tuanya juga pada akhirnya tertular kepada si anak. Sehingga sering terjadi pola yang sama berulang kembali dilakukan oleh anak yakni ketidakharmonisan dalam keluarga. 


Share:

Apa Di Balik Sekolah ?



Oleh : pidong sigak
Secara umum manusia mengatakan bahwa sekolah bisa membebaskan manusia dari belenggu, nyatanya malah masuk pada belenggu baru yaitu belenggu sekolah.  Pandangan ini pun “membelenggu” dalam benak masyarakat karena memandang segala sesuatu nasib buruk dapat hilang dengan menyekolahkan anak di sekolah formal walaupun dengan  biaya tinggi. Paradoks—yang paling rumit dihilangkan dari benak masyarakat—ini diwarisi terus menerus tanpa menyadari bahwa sekolah tidak hanya ada dalam Dunia Formal yang terlembagakan, Sehingga Masyarakat menganggap Pendidikan hanya ada di dalam sekolah formal itu.

Sekolah Formal telah mempersempit pandangan setiap manusia untuk belajar, Karena meyakini belajar hanya ada didalam dunia tersebut. Manusia terbebani akan makna sekolah yang membuat mereka lupa bahwa belajar untuk diri sendiri dan dari pengalaman pribadi dalam ruang ruang tidak formal bukan belajar. Hal ini mengakibatkan Nilai pasar untuk sekolah tinggi dan mahal sebab masyarakat akan berlomba lomba menyekolahkan anaknya dengan harapan mampu bersaing dan memperoleh hidup yang lebih baik.

Akhirnya masyarakat terjebak dalam ilusi mereka sendiri. Harapan awalnya adalah untuk mengubah keadaan malah membuat mereka hidup dalam ekspektasi yang tidak tercapai. Nyatanya sekolah tidak pernah menjamin masa depan manusia, yang ada malah membawa ke ruang yang berbeda dari apa yang dimiliki yaitu terasing dari ruang hidup mereka. Sebagai contoh, seseorang pergi Sekolah dengan harapan memiliki masa depan yang lebih baik, kemudian akan mengeluarkan sangat banyak uang untuk itu. Kemiskinan yang selama ini di derita telah membuatnya berekspektasi bahwa dengan sekolah bisa mengubah nasib.

Apa Di Balik Sekolah ?

Kita dapat melacak asal mula kata sekolah dari bahasa latin yaitu scola atau scolae yang berarti waktu luang atau waktu senggang. Berarti dari pengertian kata ini bisa kita sebut bahwa sekolah tidak serumit yang kita lakukan saat ini. Bahwa bersekolah dengan memakan waktu yang banyak, les privat, kursus dan kurikulum telah bembunuh waktu luang pelajar. Artinya sekolah telah berubah haluan menjadi sesuatu yang menyesatkan masyarakat. Sesuatu yang menyesatkan itu maksudnya adalah ketika makna sekolah sebagai waktu luang yang mampu membuat seseorang bahagia dan berkarya malah membuat mereka semakin menderita dan membunuh daya kreasi. Manusia yang identik dengan penciptaan gagasan-gagasan malah tidak memiliki gagasan baru yang bisa membebaskan manusia dari belenggunnya sendiri—hal ini menjadi masalah yang terus menerus terjadi.

Sekolah mengaburkan maksud dari Pengajaran dengan Belajar, Ijazah dengan Kemampuan, kefasihan Berceloteh dengan Keberanian mengungkapkan sesuatu yang baru( ivan illich, 2000). Kekaburan membuat degradasi sosial, yang akan menganggap sekolah sebagai jalan menuju masa depan, menganggap Guru sebagai yang Maha Tahu, menganggap Ijazah sebagai kunci memiliki masa depan cerah dan berceloteh adalah mencipta. Sekolah bukan lagi sebuah jalan sunyi, tetapi telah menjadi pasar yang menciptakan ketakutan ketakutan akan kehilangan masa depan.

Sekolah formal menjadi satu satunya penentu masa depan yang membuat masyarakat semakin tergila gila pada sekolah formal. Masyarakat tidak menayadari keadaan yang lain dari sekolah saat ini. Sekolah telah diatur oleh kurikulum dan kurikulum telah diatur oleh kebutuhan pasar. Kebutuhan pasar yang dimaksud adalah adanya arahan dalam dunia Pendidikan untuk mengarahkan peserta didik sesuai dengan kebutuhan perusahaan-perusahaan.

Sekolah telah mengatur dunia pendidikan menjadi mesin penyedia jasa pekerjaan. Indikator-indikator untuk penerimaan pekerja telah ditentukan oleh nilai, ijazah dan tingkat usia serta kepatuhan. Setelah berhasil menyatu-padukan persepsi masyarakat tentang sekolah sebagai jalan satu satunya menuju masa depan, kesempatan menuju cita cita penyeragaman  sekolah menjadi media penyalur tenaga kerja tercapai. Sekolah formal tidak mengisyaratkan peserta didik untuk menjadi manusia yang mandiri dan memiliki daya cipta serta keinginan untuk berkarya bagi masyarakat.

Sekolah memiliki funngsi baru sebagai alat kontrol pemikiran bagi masyarakat. Fungsi sebagai alat kontol adalah bahwa peserta didik telah diarahkan untuk mencintai sesuatu yang bukan dari diri mereka sendiri. Sekolah malah lebih fokus pada hal hal yang tidak substantif seperti mencintai negara, mengejar cita cita, melarang pemikiran pemikiran tertentu, menciptakan politik identitas dan menginternalisasi sistem politik busuk untuk terus menerus diwarisi generasi muda. Kontrol kontrol ini menjadi kejahatan terselubung bagi masyarakat yang pada akhirnya daya kritis dan daya cipta untuk keluar dari persoalan persoalan dimasyarakat menjadi sulit dilakukan.

Dalam dunia sekolah, peserta didik dan pengajar telah dipisahkan secara stuktur. Dalam keadaan ini pengajar menjadi sesuatu yang Maha Tahu akan segala sesuatu. Menjadi sang pemberi nilai dan ilmu yang membuat mereka secara struktur lebih tinggi dari peserta didik. Terpisahnya hubungan ini melalui struktur telah membuat hubungan antar keduanya sebagai subjek dan objek. Peserta didik menjadi objek yang tidak tahu apa apa yang kemudian di isi sebanyak mungkin akan ilmu pengetahuan. Dalam kasus ini, bisa saja anak banyak tahu dalam arti kepalanya penuh akan pengetahuan. Tetapi peserta didik akan kebingungan dalam menerapkan ilmu itu di kemudian hari. Pada akhirnya hanya mengetahui tanpa memahami dan ujung ujungnya malah menjadi anak yang patuh dan memilih menjadi pekerja di perusahaan orang lain atau malah menjadi pengangguran.

Sepertinya sekolah telah menjadi sarana yang memabukkan dan telah menjadi sarana umum yang palsu( ivan illich, 2000). Sekolah seakan akan mampu menjadi sarana yang melepaskan manusia dari belenggu dan memecahkan persoalan sehari hari malah menjadi belenggu baru yang menyulitkan seseorang keluar dari masalahnya. Hal ini disebabkan oleh sekolah yang menjauhkan manusia dari kenyataan hidup yang dia hadapi. Sekolah telah memisahkan manusia dari dirinya sendiri—dalam hal ini manusia mejadi teralienasi dari lingkungannya sendiri. Sebagai contoh seorang petani menyekolahkan anaknya dengan harapan memperbaiki hidup karena bertani susah. Kemudian anaknya sekolah, disekolah anaknya malah diajarkan sesuatu yang tidak berhubungan dengan pertanian dan bagaimana bertani yang baik, malah diajarkan sesuatu yang asing, sehingga setelah selesai sekolah malah mengatakan aku tidak perlu lagi memegang cangkul. Tetapi di ruang hidup yang baru si anak yang sekolah mengalami belenggu yang sama, kesulitan untuk melangsungkan hidup dan malah menjadi buruh bagi orang lain.

Kesimpulan

Di balik Sekolah yang ada merupakan Belenggu. Sekolah telah menciptakan struktur kelas secara global, sekolah telah menjadi ajang persaingan antar Manusia dan antar Negara. Negara kemudian menjadi pelaku utama dalam penjalanan belenggu yang ada kemudian mengorbankan manusianya untuk masuk dalam dunia persaingan yang membunuh daya cipta. Sekolah hanya dinilai dengan semangat kemajuan. Kemudian sekolah dinilai dengan nilai mata uang. Semakin mahal uang sekolah maka semakin tinggi kualitasnya( jika memakai teori foucoult artinya adalah bahwa semakin mahal kau bayar uang sekolah semakin kau gampang masuk dunia kerja yang mekanis tersebut). Kau hanya menjadi robot pekerja tanpa menjadi seorang yang berdaya cipta. Bagi saya secara pribadi sebagai solusi adalah merubah pandangan bahwa sekolah formal adalah jalan satu satunya, karena jika pandangan ini masih dipakai maka kemenangan dari perusahaan raksasa adalah memperoleh tenaga kerja murah meriah.

Kemudian sebagai ganti dari sekolah yang juga menjauhkan manusia dari latar belakangnya adalah memberi kebebasan bagi setiap wilayah untuk menciptakan sekolah sesuai dengan segala sesuatu yang mereka miliki dan butuhkan. Sudah saatnya sekolah menjadi ruang belajar yang kreatif dan berdaya untuk membebaskan manusia dari belenggu dan ketakutan kehilangan masa depan. Pada akhirnya tidak ada hirearki jenjang yang membuat manusia berkelas kelas dari sekolah yang mereka sandang.

Apakah hal ini bisa ? Tentu bisa, Apabila “Manusia elit” menghilangkan egonya mengenai apa yang dibutuhkan oleh manusia dan masyarakat. Selamat keluar dari belenggu yang membuatmu terasing ini!

 Sumber-sumber:
Bebaskan Masyarakat Dari Delenggu Sekolah Oleh Ivan Illich
Pembelajaran Di Era Serba Otonomi Oleh Andrias Harefa
Pendidikan Kaum Tertindas Oleh Paulo Freire
Sekolah Kapitalisme Yang Licik Oleh Paulo Freire


Share:

Mencari RinduMu


Aku adalah kumpulan kisah dari sejuta lekukan indah.
Nilailah aku sesukamu,
Jengkali aku semampumu,
Lecehkan aku seinginmu,
Karena ulat pun masih akan berubah jadi kupu-kupu yang indah,
Juga sehelai kain jadi ribuan bentuk yang mewah.

Siapa dan bagaimana aku sesungguhnya hanyalah seuntai fatamorgana,
Yang takkan ku temukan bila tak ku cari,
Dan takkan terbentuk bila tak melalui sejuta bentukan setiap waktu.

Jalan-jalanku adalah labirin dan lembah yang bernyawa.
Raungan, tawa, juga hysteria, menjadi sahabat,
Yang bergantian menguasai jiwa,
Yang tak pernah absen menghias angkasa warna.

Kerasnya prosesku takkan kau tau,
Beratnya perjuanganku takkan pernah jadi penilaianmu,
Karena kau bukanlah aku,
Dan aku bukan dirimu.

Hidup ini berat kawan,
Namun aku akan selalu mencari,
Aku takkan pernah berhenti menjalani,
Melewati hutan makian,
Menyeberangi deburan ombak cacian dan cibiran,
Karena aku hanyalah ciptaan ,
Yang mencari siapa aku dalam kerinduan dari Sang Tuhan.

Luka adalah sahabat,
Duka adalah obat,
Dan kerinduan mencapai garis akhir adalah pegangan untuk pertahanan,
Yang akan selalu ku pegang,
Hingga proses mencari itu berakhir.
Dan aku bisa beristitahat.

By: Yukinara

Share:

Di Tubuh Pertiwi !


Oleh : Yustari Sinaga

Di apartemen baru ini, di desa R tempat tali pusarku ditanam, bapak dan mamakku mengajakku tinggal setelah kuraih gelar sarjana Hukum dari Universiteit van Amsterdam (UvA). Bangunan yang menjulang tinggi menantang langit ini menampilkan segala keindahan di sekelilingnya. Bukit yang berbaris, danau yang terhampar luas, pun sawah hijau yang terbentang bak permadani hijau, memanjakan mataku yang telah lama merindukan buaian sang pertiwi. Sekeliling apartemen yang dikelilingi rumah-rumah masyarakat batak yang masih sangat sederhana, benar-benar menampilkan view yang luar biasa dan tak terkatakan. Dari dinding berlapis kaca double glass ini, ku lemparkan pandangku dengan kedipan yang begitu lambat, seakan enggan kehilangan sedikitpun keindahan yang disajikan. Tapi benarkah ini desa R yang dulu menjadi tempatku bermain bersama sahabatku Pitta dan Tiop?

Beberapa tahun yang lalu, dipelukan pertiwi kami mengukir kisah, kisah yang tak terlupakan. 

“Pitta, Hotma, boleh aku bertanya pada kalian?” Suara Tiop, sahabatku menggema dari balik tembok batu di tepi Tao. Hotma mendeham, aku hanya terdiam menatap indahnya hamparan Tao menantikan Tiop mengutarakan tanyanya.

“Disini, dipelukan ibu pertiwi kalian sudah menyaksikan betapa orang pribumi yang membela hak orang lemah sama sekali tak dianggap benar. Lalu, akankah kalian kini juga akan mengikut langkah orang-orang yang memilih jalan tenang – diam itu?”

Tiop membawa langkahnya ke tepi Tao, berbalik arah dan kembali menatap kami tajam.

“Adilkah menurut kalian pendapat-pendapat dibungkam srikandi bumi Indonesiaku?”

Dua pasang mata kini dilempar kearah kami. Pria setengah baya berbaju pantai gambar Bob Marley. Dengan dua gelas kopi di hadapan mereka, pemuda yang duduk di Pondok bambu itu secepatnya melempar tatap ke Tao kala ku toleh kearah mereka. Entah Tiop dan Hotma memperhatikannya atau tidak akupun tak tau. Ku lirik mereka, ternyata mereka sedang berbisik dan bibir salah satu pemuda itu menunjuk nunjuk kearah kami.

Awan gelap tampak menjadi langit-langit kami berpijak kala itu. Hotma mengutak-atik Handphone di tangannya, melihat ulang kejadian yang baru terjadi di bundaran A beberapa hari yang lalu.
 “Tiop kau tau, takkan ada seorangpun yang akan memilih diam untuk ditindas kecuali dia pengecut!”

Dengan lantang Hotma membalas pertanyaan Tiop. Aku sedikit merunduk, mencoret-coret pasir pantai dengan kayu ditangan dan memberi kode kepada Tiop dan Hotma kalau sebenarnya ada intel yang sedang memata-matai kami. Aksi Keos beberapa hari lalu ternyata tak membuat polisi diam. Mereka terus memantau dan mencari daftar orang-orang yang terlibat dalam aksi revolusi pendidikan kala itu.

Tiop tersenyum sinis, memberi aba-aba tuk lari. Ternyata intel itu telah membaca gerak kami sejak awal. Secepat kilat kami ambil gerak dan berlari menyelamatkan diri. Tapi ternyata Kami terlambat. Intel itu telah menyusun strategi lebih dulu dengan kumpulannya tuk mengepung kami.

Kami tertangkap. Ya, usai sudah fikirku. Yang ada dalam bayangku hanyalah tatap mamak juga bapak yang penuh kecewa sedang menanti di depan jeruji besi. Bapak pasti marah dan malu dengan sikapku yang dianggap tak terpuji, pun pasti dia malu karena sebagai seorang kepala Kepolisian dia memiliki seorang putri sepertiku. Mamak, ah entahlah yang ku bayangkan dia pasti akan memindahkanku kuliah ke luar negeri.

Tepat dugaanku. Mamak dan bapak mengeluarkan biaya yang mahal tuk keluarkanku dari jeruji besi, dan ya surat pindah sudah diatur mamak agar aku kuliah di Amsterdam.

“Masihkah hukum Indonesia berjalan dengan semestinya? Atau kini hukum tunduk dibawah kekuasaan uang? Haha!” pekik Tiop dari balik jeruji besi.

Intel itu menatap Tiop dengan sinis. Hotma hanya menangis. Entah apa yang difikirkannya. Aku hanya menduga ia takut bila orangtuanya tau, ia takkan melanjutkan kuliahnya lagi, karena orangtuanya sangat anti dengan anak-anak yang katanya brutal. Ah tapi biasalah namanya orangtua, rasa takut dari apa yang didengar melalui orang lain terkadang dibuat berlebihan, dan tak memikirkan alasan yang sesungguhnya.

 Ku toleh ke belakang, menatap Tiop dan Hotma tuk yang terakhir kali. Tatap dan senyum Tiop juga Hotma begitu tulus.

“Pitta, ku harap kau tetap berpihak kepada orang lemah Srikandi bumi Indonesiaku. Sukses studimu, aku akan menunggumu dalam peluk ibu pertiwi lagi suatu saat nanti. Ingat Pitta, seseorang baru akan dikatakan manusia bila ia sudah bisa memanusiakan manusia!”

 Dikepalkan tangan kirinya ke atas, sebagai suatu ingatan abadi sebelum perpisahan kami. Ku balas kepalan itu sebagai perpisahan yang mengharap pertemuan lagi suatu saat nanti. Mulai saat itu aku tak lagi melihat mereka, Tiop dan Hotma setelah penerbanganku ke Amsterdam.

Ku nikmati hari-hari panjang di Amsterdam. Teman baru, suasana baru, kota baru,, makanan baru, dan hal lainnya, tapi tak bisa ku temukan seperti yang ku temukan di Indonesia. Bertahun-tahun berlalu ditelan waktu dalam usahaku meraih gelar sarjana hukum di Amsterdam.

Kini aku telah kembali, menikmati buaian mesra yang ku rindukan sejak lama. Dengan buku di tanganku dan secangkir kopi yang manjakan hidung pun lidahku, aku merindukan sahabat-sahabatku. Ibu pertiwi seolah berbisik agar ku cari dua insan itu. Ku langkahkan kaki tuk yang pertama kalinya setelah bertahun-tahun jauh dari tubuh ibu pertiwi. Dengan jaket yang membalut tubuhku, ku nikmati udara segar seperti baru pertama kali merasakannya. Ku tatap senyum dan cekikik bebas bocah yang ku lewati, membayar lunas kerinduan yang menggerogotiku.

Di satu sudut desa itu, aku melihat satu senyum yang tak asing bagiku. Senyum seorang insan manis pun anggun yang sedang mengajar sekumpulan anak-anak imut yang memakai pakaian seadanya. Kudekati pun ku sapa gadis itu.

“Kau kah Hotma si tangguh yang dulu selalu mengajakku mengajar?”
Wajah itu menolehku seakan penuh tanya.

“Aku sahabatmu Hotma, Pitta!” ku genggam bahunya meyakinkan dan berharap mendapat pelukan darinya. Tapi tidak, tangan itu menarik tanganku dari bahu dan mengajakku ke suatu tempat yang begitu indah, seingatku tempat itu dulu sering kami datangi.

“Oh, kamu Pitta itu?” Katanya seakan baru menemukan jawab atas pertanyaan yang telah lama ia lontarkan.

Apa maksudmu berkata seperti itu Hotma, tanyaku penuh tanda tanya.

“Bukan kak, aku bukan Hotma. Aku kembarannya”

Diambilnya selembar foto dari kantongnya, fotonya bersama Hotma duduk di tepian Tao. Dia mirip sekali dengan Hotma sahabatku.

“Waktu itu kak, dua hari setelah orang kakak tertangkap, surat dari kampus datang ke rumah yang menyatakan bahwa kak Hotma di DO (Drop Out), pun begitu pula yang terjadi pada bang Tiop. Kak Hotma sesungguhnya menderita penyakit jantung stadium atas kak. Dia tak pernah inginkan hal itu terjadi. Berita itu merenggut usia mudanya sedemikian cepat sepeninggal surat itu, dan sebelum hembusan terakhir nafasnya tak lupa kak Hotma menyampaikan salam terakhirnya untuk kakak padaku. Kalau bang Tiop aku tak tau pasti kak, tapi yang ku tau dia bekerja ke Malaysia agar bisa membiayai sekolah adik-adiknya.”

Bagai awan gelap di langit lepas, tak terasa airmataku menetes dengan derasnya. Menetes dengan segudang kenangan yang meledak kala itu juga. Ku peluk tubuh gadis itu, gadis yang mirip dengan sahabatku, dan ya hari itu ku rasakan sebagai hari berkabung untukku.

“Sudahlah kak, setiap orang pasti akan meninggal seirig berjalannya waktu. Kalau kakak tak keberatan, nanti malam aku bisa temani kakak tuk hilangkan rindu pada kakakku di Restoran Panatapan Tao tempat orang kakak biasa bercengkerama bertahun-tahun lalu.” Digenggamnya tanganku, memulihkan rinduku pada 2 orang sahabat yang ku rindu.

Awan cerah tenggelam ditelan malam. Aku menemui kembaran sahabatku di salah satu Restoran panatapan dekat hotel sekitar Tao.

“Mesan apa kita kali ini kak?” tanyanya dengan gaya yang serupa Hotma.

Kucoba balik lembaran kisahku dan sahabat-sahabatku, mengingat makanan dan minuman kesukaan kami. ya, cappuccino. Mengenang sahabatku, ku pesan dua cangkir cappuccino kesukaan kami. Angin sejuk malam itu menusuk ke tulangku. Rindu itu semakin terasa, kala ku seruput dan ku pandang wajah yang sedang duduk di hadapanku.

Ku aduk cappuccino itu perlahan, ku nikmati kepulan asapnya yang menyentuh hidungku. Tapi semakin lama tatapku semakin gelap. Entah kenapa kala ku tatap kembaran sahabatku wajahnya berbayang tak memberi keyakinan pada diriku.  Akankah aku masuk angin? fikirku. Ku genggam tangan gadis itu,

“Dik, kepala kakak pusing ni. Kita pulang aja ya, tapi kamu yang nyetir bisa?” tanyaku sadar tak sadar.

“Kakak kenapa? Yauda deh kak. Yuk!” Ajaknya.

Dibawanya aku ke mobil. Tapi tidak, ia sepertinya tidak sendiri. Dan yang menyetir, sepertinya seorang pria yang menyetir mobil itu. Dinyalakan mesin mobil itu, dijalankan, lalu tiba-tiba berhenti di depan hotel. Ya benar, bukan gadis itu yang menyetir. Tapi seorang pria. Pria itu membuka pintu mobil dan membopongku ke dalam hotel.

Wajahnya, seperti tak asing bagiku. Dengan setengah sadar, aku seakan pasrah dengan keadaan malam itu. hendak ku lawan, ah aku tak punya kekuatan. Dia membawaku ke sebuah kamar hotel, melemparkanku ke atas kasur empuk itu dan kulihat ia membuka bajunya. Lalu, lalu setelah itu aku tak tau apa yang terjadi. Yang ku ingat hanya, waktu itu ada suara tubrukan kuat di telingaku.
            
         Kurasakan cahaya matahari menerpa wajahku, ku buka mata dan aku sudah ada di rumah. Ku lihat mamak di hadapanku membawa sepaket sarapan. Ku raih dan ku makan, setelah itu mamak mengajakku berbincang.
            
“Apa yang terjadi tadi malam Pitta?” tanyanya dengan tatap yang penuh misteri
            
“Tidak ada mak. Aku hanya pergi makan malam dengan kembaran sahabatku Hotma, setelah itu kami pulang karena kepalaku pusing”.
            
    Dirapikan mamak piring bekas sarapanku, lalu dipegangnya kepalaku seakan ingin mengatakan sesuatu yang sangat berharga.

           “Untung bapakmu dan polisi secepatnya melacak keberadaanmu sayang.”
            “Maksud mamak?”
            “Hotma tidak memiliki kembaran Pitta sayang. Hotma hanya satu!”
            “Tidak mak, dia tak mungkin berbohong tentang suatu nyawa!”
            “Tidak mungkin kamu bilang? Dengarkan mama ya, bagaimana seorang tamatan hukum Amsterdam bisa dikibuli dengan suatu foto yang bisa diedit sih? Dan Tiop, dia juga sahabatmu kan?”
“iya mak”
“Dimana dia sekarang?” tanya mamak seolah tau segala hal.
“Dia di Malaysia kan mak?”

“Ya ampun sayang, kamu benar-benar sudah ditipu. Bapakmu tadi malam menemukanmu di sebuah hotel dekat Penatapan, dan Tiop ada di hotel itu. dia hampir menyetubuhimu. Untungnya bapakmu datang tepat waktu. Kau tau, setelah di DO beberapa tahun lalu Tiop dan Hotma didapati telah menjadi pengguna Shabu-shabu dan obat terlarang lainnya. Mereka sudah rusak sayang. Mereka sudah menjadi buronan polisi. Makanya waktu kamu bilang mau ketemu kembaran Hotma tadi malam, papa langsung ngambil pergerakan.”

Aku terdiam dengan tatap kosong. Ku langkahkan kakiku ke dekat jendela kamarku, ku tatap pertiwi yang juga mendengarkan cerita mamakku, dan tanpa berfikir panjang bisa ku simpulkan bahwa dia pun tak menyangka dengan apa yang telah terjadi.

“Ibu pertiwi, kau lah saksi waktu itu. saksi janjiku dan sahabatku bahwa kami kan bertemu suatu saat di waktu yang tepat dengan perjuangan yang masih sama, memperjuangkan nasib rakyat yang tak diperlakukan layaknya manusia. Tapi kenapa pertemuan seperti ini yang kau saksikan? Bukankah ini adalah tanda suatu perpisahan? Oh ibu, anakmu yang dulu sangat menyayangi saudara-saudaranya itu kini telah rusak. Lalu apa lagi yang bisa ku lakukan?”

Aku hanya bisa mengingat pertemuan terakhir kala itu, ku langkahkan kakiku ke kantor polisi, ku tatap kedua sahabatku dari kejauhan. Ku kepalkan tangan kiriku, kuangkat, bukan suaraku yang keluar. Hanya tangis. Tangis yang merindukan perjuangan bersama-sama itu. Mereka melihat, memandang, dengan wajah yang kacau. Tapi mereka membalas bahasa yang ku sampaikan. Airmata itu juga membasahi pipi mereka, menyapu debu yang menempel di wajahnya.

Mata-mata itu, seperti mata yang terakhir kali ku lihat sebelum berangkat ke Amsterdam. Ingin sekali ku peluk kedua sahabatku itu, mengajar anak-anak desa bersama, berdiskusi, berjuang bersama lagi, tapi kali ini tembok raksasa tengah menjulang menguasai jalan setapak yang selalu kami lalui. Berjalanpun, hanya sendiri tak bisa saling menggenggam. Hanya, aku akan selalu menanti sampai waktu yang tepat itu tiba dan mereka pulih dari keadaan yang sedang mengekang mereka dalam pilihan yang sempat diambil.  


Catatan :
Tao : Danau
Panatapan : Pemandangan
Keos : keadaan ricuh / kacau
View : Pemandangan
double glass : sejenis kaca yang sering digunakan untuk apartemen-apartemen

Share:

Postingan Populer

Labels

Postingan Terbaru