Media Kreativitas, Untuk Menunjukkan Eksistensi

"Catatan Juang" Karya Fiersa Besari


Oleh : Wisely 

Beberapa hari lalu, buku ini dipegang oleh salah seorang gadis yang aktif pada salah satu Orma di Medan. Awalnya aku tidak tertarik, tapi seketika historis Instagram berjalan, banyak kawanku yang memetik kata-kata sambil mencantumkan buku ini. Hari itu, aku sedang tertarik untuk mencari salah satu buku Anderson yang berjudul, Hidup Diluar Tempurung, di lapak buku murah sekitar lapangan Merdeka. Asik berputar-putar melihat beragam buku, buku ini terlintas dari mata dengan harga 35 ribu. Hmp, sempat berpikir panjang, oleh karena tidak mendapatkan buku yang kuinginkan, aku membelinya dengan harga 30 ribu, hahaha.
“Konspirasi Alam Semesta”, sepenggal kata di altar buku ini yang membuatku tertarik. Khayalku isinya menjurus pada pembuktian bahwa hidup ialah sesuatu yang sudah diatur oleh alam. Konsekuensinya jelas, bahwa tiap materi yang bergerak sebagai unsur dalam alam semesta yang mengatur. Itu artinya ada sebuah hukum saling keterkaitan dalam hidup. Salah satu pesan yang juga kudapat sehabis menonton film Rectoverso, bahwa tiap langkah yang kita jalani saling terkait dengan langkah lainnya. Kembali ke buku, dengan judul Catatan Juang, berpadu warna merah ke-orenan, serasa sebuah bacaan anak gerakan. Dan terakhir, dengan harga yang cukup sesuai isi kantong, maka aku putuskan untuk memberlinya.
Tidak sampai tiga hari, buku ini siap kubaca. Harus kuakui, aku menikmati tiap kata yang tersusun dan bercerita tentang seorang anak gadis bernama Suar. Diawal tokoh ini digambarkan sebagai seorang manusia yang terjebak pada sistem industri. Ia bekerja sebagai seles asuransi, meski sewaktu kuliah menjadi Sineas ialah impiannya. Mengambil keputusan untuk keluar dari kantor dan beralih mulai mengejar mimpi, menjadi sebuah awal dinamika cerita. Bukan pula terjadi begitu saja, ada dorongan yang timbul dari seengok buku cacatan seseorang yang jatuh di angkutan umum. Buku itu membungkus sebuah rasa gelisah yang inheren dengan kehidupannya. Kegelisahan yang menumpuk akhirnya mengeluarkan gadis abad modern itu keluar dari zona nyamannya. Dari hidup hanya untuk kebutuhan menjadi hidup untuk mewujudkan keinginan (Seni).
Setelah itu, sang tokoh mulai membuka pintu petualangannya dan mengawali kakinya untuk membuat sebuah dokumenter tentang polemik berdirinya sebuah perusahaan Semen di desa utara tempat ia tinggal. Sukses dengan film yang diberi judul “ekonomi merusak ekosistem”. Membuatnya semakin bergairah, meski penuh dengan tantangan. Kemudian berlanjut untuk membuat sebuah film tentang Marsinah, seorang buruh perempuan yang mati karena menentang kekuasaan masa orde baru. Hingga diakhir cerita, ia ingin membuat film tentang penulis buku catatan  Juang, yang menuntunnya untuk berjalan diluar kotak. Tidak hanya sendiri, ia juga dibantu oleh rekan-rekannya, yakni Ely dan Fajar. Dan sebagai pemberi spirit ada, Dude (pacar Suar), ayah, ibu, dan adik Suar yang selalu mendukung dari belakang. Jadi, Suar bukan superman, melainkan ia berada dalam pusaran superteam yang konsisten dan memiliki jiwa kemanusiaan.
Jika berbicara apa pesan yang ingin disampaikan buku ini, secara subjektif sangat banyak dan juga menggambarkan sebuah kegelisahan anak muda era sekarang. Kecenderungan hidup dibawah tekanan sebuah sistem yang menyesakkan sehingga membuat seseorang merasa terasing dari diri sendiri. Tandanya cukup kontras ketika Suar yang jenuh dimarahi atasannya karena kinerjanya yang merosot. Padahal sebelumnya ia salah satu pegawai terbaik dikantornya. Setelah ia beralih menjadi apa yang dimimpikan, gamblang rasa petualangnya kian mengalir, tidak stastis melainkan penuh dinamika. Ia tidak lagi hidup ala kadarnya, melainkan membuat sebuah perubahan nyata melalui karya. Hal tersebut tampak dari dihentikannya aktivitas perusahaan semen didekat desanya setelah film dokumenternya laris di medsos.
Selain itu, pembaca akan berjumpa pula pada perspektif mengenai cinta yang lebih universal. Adapun sentuhan gagasan kemanusiaan terselip tiap pesan yang disampaikan dalam cacatan juang yang dibaca oleh Suar. Jika dikuras, maka aku sebagai pembaca menyimpulkan buku ini ingin memberi pesan agar kita berupaya untuk memberi arti pada hidup dan berdampak baik kepada sesama. Tidak semata-mata hanya ingin bahagia dengan mengejar kekayaan yang begitu fana melalui tumpukan uang kertas. Cocok banget dengan realitas kehidupan saat ini kan? Hahahaha. Bukankah memupuk peradaban jauh lebih berarti? Meski harus merenggut nyawa? Bukankah ini tanggungjawab seorang yang manusiawi?
Sebagai bahan refleksi sekaligus praktis, susunan cerita dalam naskah ini sangat menghidupkan. Secara diam-diam yang kutangkap, ada anjuran penulis kepada pembaca untuk segera giat untuk menulis. Kenapa? Jikalau rekan-rekan sudah membaca buku ini, bayangkan kalau si Juang tidak menulis? Tentu si Suar akan tetap terjebak dalam sistem yang membelenggu, kehidupan didesanya juga akan tergerus oleh perusahan yang tidak memperdulikan lingkungan. Seketika hanya dengan tulisan, daya ubah tercipta, katakannlah tulisan tersebut telah menumbuhkan spirit dan Suar mematerialkannya menjadi perubahan. Dan itu terjadi ketika sang penulis telah pergi meninggalkan bumi. Keren! Ia tidak lagi hidup tapi gagasannya hidup dibumi!  
So, buku ini sangat bagus dibaca terutama oleh kalangan muda di Indonesia. Apalagi buat yang mau tamat setelah kuliah. Lembar novel ini sangat memberikan sebuat pencerahan untuk menghidupkan hidup. Berdinamika, bukan seperti robot yang mekanistik. Sebagai seorang pembaca, misteri siapa penulis buku catatan terebut tidak hanya mengandung rasa penasaran bagi si Suar melainkan aku juga. Itu point plus bagi buku ini, sehingga merangsang untuk terus menerus membaca. Selain itu kata yang digunakan juga sangat mudah dicerna. Terakhir, endingnya tidak tertebak dan pas, good job buat Fiersa Besari, hahahah.

Share:

No comments:

Post a Comment

Postingan Populer

Labels

Postingan Terbaru