Media Kreativitas, Untuk Menunjukkan Eksistensi

Mengaktifkan Kesadaran Kritis


Oleh : Wisely

Beberapa hari lalu, ada diskusi di sebuah tempat ngopinya kalangan anak muda kota Medan. Mencicipi kopi yang berasal dari desa membuat lidah terasa pahit tapi nikmat di ujung-ujung, layaknya ucap-ucap familiar dalam sinetron, benci dalam cinta. Sembari minum, interaksi sosial terjadi secara kondusif, apalagi dari kalangan mahasiswa. Ntah itu sifatnya formal ataupun non formal. Tidak jarang pula interaksi sosial diisi oleh diskusi-diskusi ringan tentang persoalan sekitar. Potret kehidupan inilah sepertinya kian menjamur di kota metropolitan ini, tentu bukan tanpa sebab. Tapi hal ini juga dibarengi dari gerakan kopi Barista yang mulai menunjukan eksistensinya.
Kembali ke-awal, proses bertukar pikiran saat itu dibawakan oleh salah seorang mahasiswa Unimed dengan topik bedah buku Pendidikan Kaum Tertindas. Buku ini disinyalir banyak dibahas dalam forum-forum diskusi para aktivis gerakan sosial. Secara literatur dapat pula ditelisik jejak buku ini dari tulisan Mansyur Fakih yang berjudul, Sesat Pikir Globalisasi. Sebagai pembuka, pemateri menuturkan akan salah satu persoalan penting dalam dunia pendidikan. Salah satunya ialah sistem gaya “Bank” yang menjadi salah satu kritik Freire terhadap pendidikan saat itu. Dari sistem ini pula akhirnya akan menciptakan budaya diam dalam ruang kelas. Terakhir kelas menjadi tidak dialogis dan kaum terdidik akan cenderung tenggelam ditakhlukkan oleh pendidik. Lantas apa keterkaitan ini dengan kehidupan mahasiswa saat ini?  
Mendarat kekampus, pola kehidupan mahasiswa kian terjerumus dalam cara berpikir yang pragmatis bahkan opportunis. Secara sederhana dapat ditelisik dari adanya pendangan yang mengungkapkan kampus hanya sebagai batu pijakan untuk mendapatkan kerja mapan dengan gaji yang besar. Alhasil tindaknya, copas dalam mengerjakan tugas, menyontek saat ujian, apatis terhadap keadaan sosial, minim berorganisasi dan lain-lain. Bukan hal yang rahasia pula tipe mahasiswa ini sering dilihat sebagai mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang). Tentu yang dikejar tidak lain ialah mendapatkan Indeks Prestasi yang tinggi agar mudah melamar kerja.
Jika dilihat dari pola hidup diluar kampus, maka sangat mudah mendeteksi bahwa kegiatan mahasiswa dominan diisi oleh kegiatan hiburan seperti menonton bioskop, travelling, shopping, main game online, hingga menikmati film Korea di kos-kosan yang berlapis-lapis episode. Tidak jarang juga sampai menghabiskan waktu lebih dari setengah hari untuk menikmati drama tersebut. Inilah pengaruh yang dibawa dari dunia teknologi dalam sendi-sendi kehidupan mahasiswa secara umum. Ada yang memanfaatkan teknologi tersebut, adapula yang hanyut didalamnya. Tentu yang terakhir tersebut menyimpan daya bahaya laten bagi aktivitas akademik.
Disamping itu juga, ada kecenderungan lebih mengaktifkan diri pada dunia “maya” yang mengakibatkan lahirnya aktivis-aktivis intelektual medsos yang mengungkapkan kritik, komentar, saran, hingga pengunggkapan rasa untuk merespon isu-isu aktual yang sedang ramai dibicarakan oleh publik. Maka tidak jarang, sering muncul satire dengan ucapan pengamat medsos. Keberlangsungan hal tersebut, tanpa dibarengi mengaktifkan diri pada dunia nyata akan menciptakan sebuah ketidakseimbangan antara ucapan dan tindakan.
Hadir dalam dunia imaginer yang menyelimuti kehidupan mahasiswa mirip dengan era kegelapan dahulu di Eropa. Dimana ada dominan umat yang terlalu asik di dunia “sana” dibanding dunia sini. Mendominankan diri pada hubungan vertikal sehingga lupa merawat hubungan horizontal. Hal ini pula yang menjadi titik kritik Karl Marx terhadap agama sehingga mengucapkan agama sabagai candu, terlebih karena kondisi sosial saat itu kian timpang atau berada dalam praktik dehumanisasi. Dan saat bersamaan kaum agamawan cenderung bersikap pasif memandang persoalan. Untuk keluar dari kepasifan tersebut maka terbit salah satu gagasan baru dari Amerika Latin yakni teologi pembebasan. Pemahaman ini pula memberikan warna keseimbangan antara hubungan horizontal dengan hubungan vertikal. Alhasil, aksi sosial diwujudkan menjadi tindakan aktif dari proses keberimanan (praksis).
Tentu dunia “sana” yang dimaksud pada zaman kegelapan tidak sama dengan dunia “sana” dalam kehidupan mahasiswa saat ini. Pertama lebih mengarah pada spiritualitas dan kedua lebih kepada dunia maya dari teknologi. Namun kedua hal tersebut memiliki kesamaan yakni tidak berada dalam dunia nyata. Oleh karena itu dari gagasana Freire dapat berfungsi untuk mengeluarkan seorang intelektual tersebut dari kealpaan dengan mengaktifkan nalar kritis sebagai kunci. Maka pintu untuk memandang dunia jauh lebih konkret, bahwa sedang tidak baik-baik saja. Ada penggusuran, kelaparan, ketidakberdayaan, dan masih banyak lagi tindak ketidak-manusiawian menjalar dalam kehidupan masyarakat. Dalam situasi inilah perlu daya tranformasi sebagai wujud nyata dari daya kritis untuk mengubah dunia.
Namun melihat pola kehidupan yang demikian pula mendukung hingga melanggengkan sistem gaya Bank. Jika artikulasikan, sistem gaya bank ini ialah proses belajar mengajar dimana peran pendidik sebagai orang yang maha tahu dan kaum terdidik sebagai orang tidak tahu apa-apa. Sehingga guru layaknya menabung ilmu ke kepala murid (bank) dan murid hanya dijadikan objek penerima pasif oleh guru. Maka tidak heran ada proses mengajar yang hanya memindahkan baca (mungkin lewat dikte guru) dari buku ke cacatan mahasiswa oleh dosen. Setelah itu disuruh untuk menghapal, lalu memuntahkannya pada soal-soal ujian. Proses ini terus berlangsung berulang-ulang seperti lingkaran setan. Selain itu pendidik tenden pula tidak senang dikritik karena tidak ingin dianggap keliru demi status quo sebagai orang yang paling tahu. Ruang yang antidialogis pun terjadi. Alhasil Budaya tunduk dan diam timbul dipermukaan.  
Dari suasana itu, tidaklah mengherankan jika ruang kelas menjadi tidak asik atau membosankan. Misalnya saja ketika dosen tidak hadir sampai beberapa kali pertemuan, respon  bahagia pasti akan ditunjukkan. Padahal uang kuliah menaik tiap tahunnya. Disisi lain mahasiswa menjadi apatis pula ketika terjadi pungutan liar, tidak tranparannya keuangan, ruang kelas yang 1: 45 keatas, hingga sarana yang tidak memadai terjadi di kampus. Slogan agen of change ataupun control of sosial akhirnya menjadi tidak populer di tindakan mahasiswa. Padahal sejarah telah mencatat mahasiswa berkontribusi besar dalam proses perubahan sosial, terutama saat tumbangnya rezim orde baru. Bukan berarti kondisi rezim saat ini sedang baik-baik saja. Tapi kemunginan besar ada proses hegemoni yang coba membisukan dengan mematikan daya kritis.
         Dalam kondisi inilah Freire menawarkan paradigma kritis dalam memandang suatu persoalan. Yakni mampu menelisik soal bukan sesuatu yang datang begitu saja dari “atas” sehingga diterima bergitu saja melainkan ada sebuah konflik struktural yang dimainkan oleh segelintir orang. Sehingga diperlukan sebuah perlawanan untuk mewujudkan tranformasi sosial kearah yang lebih baik. Dalam hal ini, Freire membagi menjadi tiga kesadaran, yakni pertama kesadaran magis yang mengganggap persoalan sebagai sebuah takdir. Kedua, kesadaran naif yang sudah mengetahui persoalan namun tindak menaruh tindakan untuk mengubah. Ketiga, kesadaran kritis yang mengindentifikasi, analisis, dan tranformasi sebuah keadaan. Kiranya kita dapat mengaktifkan kesadaran kritis dimulai dari langkah kecil, salah satunya seperti yang telah dilakukan oleh kedai kopi yakni, menciptakan ruang diskusi sebagai proses bertukar pikiran mengenai persoalan sosial. Salam...
Share:

No comments:

Post a Comment

Postingan Populer

Labels

Postingan Terbaru