Media Kreativitas, Untuk Menunjukkan Eksistensi

Resensi Novel: Tempurung



Menilik buku ini, seperti mendengar hitam-putih kehidupan perempuan. Perlakuan yang diterima perempuan disaat mereka dewasa dan memulai suatu hubungan dengan lelaki. Gambaran tentang kehidupan perempuan setelah menikah dikisahkan sangat dramatis, dimana perempuan-perempuan yang diceritakan memiliki hubungan rumah tangga yang tidak harmonis. Perlakuan terhadap perempuan dengan semena-mena dengan mengganggap perempuan sebagai mahluk lemah yang dapat diperlakukan tidak adil.
Ketidakadilan digambarkan dengan perlakuan suami yang melakukan selingkuh, perempuan hanya sebagai oknum yang melahirkan anak, perempuan adalah ibu artinya melahirkan, membesarkan dan mendidik anak. Peran ini adalah tanggung jawab sepenuhnya yang di pikul oleh perempuan. Perlakuan yang tidak adil terhadap perempuan membuat sebagian perempuan sadar akan kondisinya. Sehingga ada yang memutuskan untuk memilih tidak menikah atau memilih pasangan sejenis (perempuan/lesbian).
Terdapat juga anggapan bahwa lelaki itu adalah binatang penyiksa perempuan. Bahkan perasaan ini ditemui oleh seorang anak gadis yang merasa tidak mendapat perhatian ayahnya. Untuk mengingat wajahnya saja dia tidak bisa, oleh karena ayahnya tidak pernah bercanda atau melakukan sesuatu terhadap putrinya. Ayahnya yang selalu focus terhadap karier dan buku-bukunya dan menyampingkan masalah keluarga, termasuk dalam mendidik anak. Sekalipun anak mencoba menarik perhatian si ayah, akan tetapi ayah tidak memberi respon. Pada akhirnya yang mengambil posisi untuk mendidik anak diambil alih oleh si ibu.
Suatu pelajaran yang menarik dari buku ini bagi saya adalah sikap dari ibu rosa dalam membimbing rosa anaknya. Kata-kata yang sering diulang ketika rosa mempertanyakan kebahagian rumah tangga dan cinta ayahnya kepada ibunya. Jawaban yang lantas diberikan ibunya adalah kau akan belajar ketika kau akan mengalami peristiwa itu sendiri. Bagaimana nanti sikap mu terhadap anak mu dan bagaimana nanti perlakuanmu terhadap orang yang berada disekitarmu.
  
Kritik
Dari semua pengalaman perempuan yang diceritakan dalam novel ini tidak ditemukan cerita keluarga yang harmonis. Menitik beratkan bahwa dunia perempuan seolah dunia yang terpisah dari lelaki, membuat perempuan membenci laki-laki karena perlakuan yang tidak adil.
Perlu digaris bawahi dalam setiap pengalaman yang diceritakan bahwa laki-laki disebutkan tidak bertanggung jawab dengan tidak menafkahi keluarga. Artinya ketika disebutkan bahwa laki-laki tidak bertanggung jawab, berarti ada anggapan bahwa seharusnya laki-laki lah yang bertanggung jawab untuk menghidupi keluarga. Melihat pandangan ini artinya penulis novel sepakat bahwa yang menjadi penentu dalam sebuah keluarga termasuk dalam menafkahi adalah laki-laki. Sebab, apa salahnya jika perempuan yang menafkahi rumah tangga. Adakah yang harus dipersoalkan, bukankah dengan demikian berarti sistem partriarki itu tidak akan utuh selamanya.
Secara keseluruhan cerita yang digambarkan dalam novel tempurung ini mengambarkan bahwa perempuan bisa dikatakan tidak memiliki pendirian sama sekali. Mereka juga butuh cinta, anak, keluarga dan sentuhan akan tetapi beranggapan akan mendapat semua itu dari laki-laki. Pola pemikiran yang tidak konsisten ketika perempuan itu remaja dan mendapat perlakuan yang kurang baik dari laki-laki dia memutuskan untuk tidak menikah. Akan tetapi setelah dewasa pada akhirnya dia memilih untuk menikah. Kasus lain ketika perempuan itu diperlakukan dengan tidak baik dia juga berlaku seperti itu,  misalkan saja dengan menelantarkan anaknya sendiri atau melacurkan dirinya demi uang. Padahal jika dia ikut melacurkan dirinya artinya dia juga bisa berakibat menghancurkan  hubungan rumah tangga orang lain setidaknya.
Dari persoalan setiap keluarga yang menjadi korban tetap adalah anak-anak. Anak dalam keluarga itu menjadi korban yang tidak tahu menahu sebabnya. Pola perilaku yang ditunjukkan orang tuanya juga pada akhirnya tertular kepada si anak. Sehingga sering terjadi pola yang sama berulang kembali dilakukan oleh anak yakni ketidakharmonisan dalam keluarga. 


Share:

Apa Di Balik Sekolah ?



Oleh : pidong sigak
Secara umum manusia mengatakan bahwa sekolah bisa membebaskan manusia dari belenggu, nyatanya malah masuk pada belenggu baru yaitu belenggu sekolah.  Pandangan ini pun “membelenggu” dalam benak masyarakat karena memandang segala sesuatu nasib buruk dapat hilang dengan menyekolahkan anak di sekolah formal walaupun dengan  biaya tinggi. Paradoks—yang paling rumit dihilangkan dari benak masyarakat—ini diwarisi terus menerus tanpa menyadari bahwa sekolah tidak hanya ada dalam Dunia Formal yang terlembagakan, Sehingga Masyarakat menganggap Pendidikan hanya ada di dalam sekolah formal itu.

Sekolah Formal telah mempersempit pandangan setiap manusia untuk belajar, Karena meyakini belajar hanya ada didalam dunia tersebut. Manusia terbebani akan makna sekolah yang membuat mereka lupa bahwa belajar untuk diri sendiri dan dari pengalaman pribadi dalam ruang ruang tidak formal bukan belajar. Hal ini mengakibatkan Nilai pasar untuk sekolah tinggi dan mahal sebab masyarakat akan berlomba lomba menyekolahkan anaknya dengan harapan mampu bersaing dan memperoleh hidup yang lebih baik.

Akhirnya masyarakat terjebak dalam ilusi mereka sendiri. Harapan awalnya adalah untuk mengubah keadaan malah membuat mereka hidup dalam ekspektasi yang tidak tercapai. Nyatanya sekolah tidak pernah menjamin masa depan manusia, yang ada malah membawa ke ruang yang berbeda dari apa yang dimiliki yaitu terasing dari ruang hidup mereka. Sebagai contoh, seseorang pergi Sekolah dengan harapan memiliki masa depan yang lebih baik, kemudian akan mengeluarkan sangat banyak uang untuk itu. Kemiskinan yang selama ini di derita telah membuatnya berekspektasi bahwa dengan sekolah bisa mengubah nasib.

Apa Di Balik Sekolah ?

Kita dapat melacak asal mula kata sekolah dari bahasa latin yaitu scola atau scolae yang berarti waktu luang atau waktu senggang. Berarti dari pengertian kata ini bisa kita sebut bahwa sekolah tidak serumit yang kita lakukan saat ini. Bahwa bersekolah dengan memakan waktu yang banyak, les privat, kursus dan kurikulum telah bembunuh waktu luang pelajar. Artinya sekolah telah berubah haluan menjadi sesuatu yang menyesatkan masyarakat. Sesuatu yang menyesatkan itu maksudnya adalah ketika makna sekolah sebagai waktu luang yang mampu membuat seseorang bahagia dan berkarya malah membuat mereka semakin menderita dan membunuh daya kreasi. Manusia yang identik dengan penciptaan gagasan-gagasan malah tidak memiliki gagasan baru yang bisa membebaskan manusia dari belenggunnya sendiri—hal ini menjadi masalah yang terus menerus terjadi.

Sekolah mengaburkan maksud dari Pengajaran dengan Belajar, Ijazah dengan Kemampuan, kefasihan Berceloteh dengan Keberanian mengungkapkan sesuatu yang baru( ivan illich, 2000). Kekaburan membuat degradasi sosial, yang akan menganggap sekolah sebagai jalan menuju masa depan, menganggap Guru sebagai yang Maha Tahu, menganggap Ijazah sebagai kunci memiliki masa depan cerah dan berceloteh adalah mencipta. Sekolah bukan lagi sebuah jalan sunyi, tetapi telah menjadi pasar yang menciptakan ketakutan ketakutan akan kehilangan masa depan.

Sekolah formal menjadi satu satunya penentu masa depan yang membuat masyarakat semakin tergila gila pada sekolah formal. Masyarakat tidak menayadari keadaan yang lain dari sekolah saat ini. Sekolah telah diatur oleh kurikulum dan kurikulum telah diatur oleh kebutuhan pasar. Kebutuhan pasar yang dimaksud adalah adanya arahan dalam dunia Pendidikan untuk mengarahkan peserta didik sesuai dengan kebutuhan perusahaan-perusahaan.

Sekolah telah mengatur dunia pendidikan menjadi mesin penyedia jasa pekerjaan. Indikator-indikator untuk penerimaan pekerja telah ditentukan oleh nilai, ijazah dan tingkat usia serta kepatuhan. Setelah berhasil menyatu-padukan persepsi masyarakat tentang sekolah sebagai jalan satu satunya menuju masa depan, kesempatan menuju cita cita penyeragaman  sekolah menjadi media penyalur tenaga kerja tercapai. Sekolah formal tidak mengisyaratkan peserta didik untuk menjadi manusia yang mandiri dan memiliki daya cipta serta keinginan untuk berkarya bagi masyarakat.

Sekolah memiliki funngsi baru sebagai alat kontrol pemikiran bagi masyarakat. Fungsi sebagai alat kontol adalah bahwa peserta didik telah diarahkan untuk mencintai sesuatu yang bukan dari diri mereka sendiri. Sekolah malah lebih fokus pada hal hal yang tidak substantif seperti mencintai negara, mengejar cita cita, melarang pemikiran pemikiran tertentu, menciptakan politik identitas dan menginternalisasi sistem politik busuk untuk terus menerus diwarisi generasi muda. Kontrol kontrol ini menjadi kejahatan terselubung bagi masyarakat yang pada akhirnya daya kritis dan daya cipta untuk keluar dari persoalan persoalan dimasyarakat menjadi sulit dilakukan.

Dalam dunia sekolah, peserta didik dan pengajar telah dipisahkan secara stuktur. Dalam keadaan ini pengajar menjadi sesuatu yang Maha Tahu akan segala sesuatu. Menjadi sang pemberi nilai dan ilmu yang membuat mereka secara struktur lebih tinggi dari peserta didik. Terpisahnya hubungan ini melalui struktur telah membuat hubungan antar keduanya sebagai subjek dan objek. Peserta didik menjadi objek yang tidak tahu apa apa yang kemudian di isi sebanyak mungkin akan ilmu pengetahuan. Dalam kasus ini, bisa saja anak banyak tahu dalam arti kepalanya penuh akan pengetahuan. Tetapi peserta didik akan kebingungan dalam menerapkan ilmu itu di kemudian hari. Pada akhirnya hanya mengetahui tanpa memahami dan ujung ujungnya malah menjadi anak yang patuh dan memilih menjadi pekerja di perusahaan orang lain atau malah menjadi pengangguran.

Sepertinya sekolah telah menjadi sarana yang memabukkan dan telah menjadi sarana umum yang palsu( ivan illich, 2000). Sekolah seakan akan mampu menjadi sarana yang melepaskan manusia dari belenggu dan memecahkan persoalan sehari hari malah menjadi belenggu baru yang menyulitkan seseorang keluar dari masalahnya. Hal ini disebabkan oleh sekolah yang menjauhkan manusia dari kenyataan hidup yang dia hadapi. Sekolah telah memisahkan manusia dari dirinya sendiri—dalam hal ini manusia mejadi teralienasi dari lingkungannya sendiri. Sebagai contoh seorang petani menyekolahkan anaknya dengan harapan memperbaiki hidup karena bertani susah. Kemudian anaknya sekolah, disekolah anaknya malah diajarkan sesuatu yang tidak berhubungan dengan pertanian dan bagaimana bertani yang baik, malah diajarkan sesuatu yang asing, sehingga setelah selesai sekolah malah mengatakan aku tidak perlu lagi memegang cangkul. Tetapi di ruang hidup yang baru si anak yang sekolah mengalami belenggu yang sama, kesulitan untuk melangsungkan hidup dan malah menjadi buruh bagi orang lain.

Kesimpulan

Di balik Sekolah yang ada merupakan Belenggu. Sekolah telah menciptakan struktur kelas secara global, sekolah telah menjadi ajang persaingan antar Manusia dan antar Negara. Negara kemudian menjadi pelaku utama dalam penjalanan belenggu yang ada kemudian mengorbankan manusianya untuk masuk dalam dunia persaingan yang membunuh daya cipta. Sekolah hanya dinilai dengan semangat kemajuan. Kemudian sekolah dinilai dengan nilai mata uang. Semakin mahal uang sekolah maka semakin tinggi kualitasnya( jika memakai teori foucoult artinya adalah bahwa semakin mahal kau bayar uang sekolah semakin kau gampang masuk dunia kerja yang mekanis tersebut). Kau hanya menjadi robot pekerja tanpa menjadi seorang yang berdaya cipta. Bagi saya secara pribadi sebagai solusi adalah merubah pandangan bahwa sekolah formal adalah jalan satu satunya, karena jika pandangan ini masih dipakai maka kemenangan dari perusahaan raksasa adalah memperoleh tenaga kerja murah meriah.

Kemudian sebagai ganti dari sekolah yang juga menjauhkan manusia dari latar belakangnya adalah memberi kebebasan bagi setiap wilayah untuk menciptakan sekolah sesuai dengan segala sesuatu yang mereka miliki dan butuhkan. Sudah saatnya sekolah menjadi ruang belajar yang kreatif dan berdaya untuk membebaskan manusia dari belenggu dan ketakutan kehilangan masa depan. Pada akhirnya tidak ada hirearki jenjang yang membuat manusia berkelas kelas dari sekolah yang mereka sandang.

Apakah hal ini bisa ? Tentu bisa, Apabila “Manusia elit” menghilangkan egonya mengenai apa yang dibutuhkan oleh manusia dan masyarakat. Selamat keluar dari belenggu yang membuatmu terasing ini!

 Sumber-sumber:
Bebaskan Masyarakat Dari Delenggu Sekolah Oleh Ivan Illich
Pembelajaran Di Era Serba Otonomi Oleh Andrias Harefa
Pendidikan Kaum Tertindas Oleh Paulo Freire
Sekolah Kapitalisme Yang Licik Oleh Paulo Freire


Share:

Mencari RinduMu


Aku adalah kumpulan kisah dari sejuta lekukan indah.
Nilailah aku sesukamu,
Jengkali aku semampumu,
Lecehkan aku seinginmu,
Karena ulat pun masih akan berubah jadi kupu-kupu yang indah,
Juga sehelai kain jadi ribuan bentuk yang mewah.

Siapa dan bagaimana aku sesungguhnya hanyalah seuntai fatamorgana,
Yang takkan ku temukan bila tak ku cari,
Dan takkan terbentuk bila tak melalui sejuta bentukan setiap waktu.

Jalan-jalanku adalah labirin dan lembah yang bernyawa.
Raungan, tawa, juga hysteria, menjadi sahabat,
Yang bergantian menguasai jiwa,
Yang tak pernah absen menghias angkasa warna.

Kerasnya prosesku takkan kau tau,
Beratnya perjuanganku takkan pernah jadi penilaianmu,
Karena kau bukanlah aku,
Dan aku bukan dirimu.

Hidup ini berat kawan,
Namun aku akan selalu mencari,
Aku takkan pernah berhenti menjalani,
Melewati hutan makian,
Menyeberangi deburan ombak cacian dan cibiran,
Karena aku hanyalah ciptaan ,
Yang mencari siapa aku dalam kerinduan dari Sang Tuhan.

Luka adalah sahabat,
Duka adalah obat,
Dan kerinduan mencapai garis akhir adalah pegangan untuk pertahanan,
Yang akan selalu ku pegang,
Hingga proses mencari itu berakhir.
Dan aku bisa beristitahat.

By: Yukinara

Share:

Di Tubuh Pertiwi !


Oleh : Yustari Sinaga

Di apartemen baru ini, di desa R tempat tali pusarku ditanam, bapak dan mamakku mengajakku tinggal setelah kuraih gelar sarjana Hukum dari Universiteit van Amsterdam (UvA). Bangunan yang menjulang tinggi menantang langit ini menampilkan segala keindahan di sekelilingnya. Bukit yang berbaris, danau yang terhampar luas, pun sawah hijau yang terbentang bak permadani hijau, memanjakan mataku yang telah lama merindukan buaian sang pertiwi. Sekeliling apartemen yang dikelilingi rumah-rumah masyarakat batak yang masih sangat sederhana, benar-benar menampilkan view yang luar biasa dan tak terkatakan. Dari dinding berlapis kaca double glass ini, ku lemparkan pandangku dengan kedipan yang begitu lambat, seakan enggan kehilangan sedikitpun keindahan yang disajikan. Tapi benarkah ini desa R yang dulu menjadi tempatku bermain bersama sahabatku Pitta dan Tiop?

Beberapa tahun yang lalu, dipelukan pertiwi kami mengukir kisah, kisah yang tak terlupakan. 

“Pitta, Hotma, boleh aku bertanya pada kalian?” Suara Tiop, sahabatku menggema dari balik tembok batu di tepi Tao. Hotma mendeham, aku hanya terdiam menatap indahnya hamparan Tao menantikan Tiop mengutarakan tanyanya.

“Disini, dipelukan ibu pertiwi kalian sudah menyaksikan betapa orang pribumi yang membela hak orang lemah sama sekali tak dianggap benar. Lalu, akankah kalian kini juga akan mengikut langkah orang-orang yang memilih jalan tenang – diam itu?”

Tiop membawa langkahnya ke tepi Tao, berbalik arah dan kembali menatap kami tajam.

“Adilkah menurut kalian pendapat-pendapat dibungkam srikandi bumi Indonesiaku?”

Dua pasang mata kini dilempar kearah kami. Pria setengah baya berbaju pantai gambar Bob Marley. Dengan dua gelas kopi di hadapan mereka, pemuda yang duduk di Pondok bambu itu secepatnya melempar tatap ke Tao kala ku toleh kearah mereka. Entah Tiop dan Hotma memperhatikannya atau tidak akupun tak tau. Ku lirik mereka, ternyata mereka sedang berbisik dan bibir salah satu pemuda itu menunjuk nunjuk kearah kami.

Awan gelap tampak menjadi langit-langit kami berpijak kala itu. Hotma mengutak-atik Handphone di tangannya, melihat ulang kejadian yang baru terjadi di bundaran A beberapa hari yang lalu.
 “Tiop kau tau, takkan ada seorangpun yang akan memilih diam untuk ditindas kecuali dia pengecut!”

Dengan lantang Hotma membalas pertanyaan Tiop. Aku sedikit merunduk, mencoret-coret pasir pantai dengan kayu ditangan dan memberi kode kepada Tiop dan Hotma kalau sebenarnya ada intel yang sedang memata-matai kami. Aksi Keos beberapa hari lalu ternyata tak membuat polisi diam. Mereka terus memantau dan mencari daftar orang-orang yang terlibat dalam aksi revolusi pendidikan kala itu.

Tiop tersenyum sinis, memberi aba-aba tuk lari. Ternyata intel itu telah membaca gerak kami sejak awal. Secepat kilat kami ambil gerak dan berlari menyelamatkan diri. Tapi ternyata Kami terlambat. Intel itu telah menyusun strategi lebih dulu dengan kumpulannya tuk mengepung kami.

Kami tertangkap. Ya, usai sudah fikirku. Yang ada dalam bayangku hanyalah tatap mamak juga bapak yang penuh kecewa sedang menanti di depan jeruji besi. Bapak pasti marah dan malu dengan sikapku yang dianggap tak terpuji, pun pasti dia malu karena sebagai seorang kepala Kepolisian dia memiliki seorang putri sepertiku. Mamak, ah entahlah yang ku bayangkan dia pasti akan memindahkanku kuliah ke luar negeri.

Tepat dugaanku. Mamak dan bapak mengeluarkan biaya yang mahal tuk keluarkanku dari jeruji besi, dan ya surat pindah sudah diatur mamak agar aku kuliah di Amsterdam.

“Masihkah hukum Indonesia berjalan dengan semestinya? Atau kini hukum tunduk dibawah kekuasaan uang? Haha!” pekik Tiop dari balik jeruji besi.

Intel itu menatap Tiop dengan sinis. Hotma hanya menangis. Entah apa yang difikirkannya. Aku hanya menduga ia takut bila orangtuanya tau, ia takkan melanjutkan kuliahnya lagi, karena orangtuanya sangat anti dengan anak-anak yang katanya brutal. Ah tapi biasalah namanya orangtua, rasa takut dari apa yang didengar melalui orang lain terkadang dibuat berlebihan, dan tak memikirkan alasan yang sesungguhnya.

 Ku toleh ke belakang, menatap Tiop dan Hotma tuk yang terakhir kali. Tatap dan senyum Tiop juga Hotma begitu tulus.

“Pitta, ku harap kau tetap berpihak kepada orang lemah Srikandi bumi Indonesiaku. Sukses studimu, aku akan menunggumu dalam peluk ibu pertiwi lagi suatu saat nanti. Ingat Pitta, seseorang baru akan dikatakan manusia bila ia sudah bisa memanusiakan manusia!”

 Dikepalkan tangan kirinya ke atas, sebagai suatu ingatan abadi sebelum perpisahan kami. Ku balas kepalan itu sebagai perpisahan yang mengharap pertemuan lagi suatu saat nanti. Mulai saat itu aku tak lagi melihat mereka, Tiop dan Hotma setelah penerbanganku ke Amsterdam.

Ku nikmati hari-hari panjang di Amsterdam. Teman baru, suasana baru, kota baru,, makanan baru, dan hal lainnya, tapi tak bisa ku temukan seperti yang ku temukan di Indonesia. Bertahun-tahun berlalu ditelan waktu dalam usahaku meraih gelar sarjana hukum di Amsterdam.

Kini aku telah kembali, menikmati buaian mesra yang ku rindukan sejak lama. Dengan buku di tanganku dan secangkir kopi yang manjakan hidung pun lidahku, aku merindukan sahabat-sahabatku. Ibu pertiwi seolah berbisik agar ku cari dua insan itu. Ku langkahkan kaki tuk yang pertama kalinya setelah bertahun-tahun jauh dari tubuh ibu pertiwi. Dengan jaket yang membalut tubuhku, ku nikmati udara segar seperti baru pertama kali merasakannya. Ku tatap senyum dan cekikik bebas bocah yang ku lewati, membayar lunas kerinduan yang menggerogotiku.

Di satu sudut desa itu, aku melihat satu senyum yang tak asing bagiku. Senyum seorang insan manis pun anggun yang sedang mengajar sekumpulan anak-anak imut yang memakai pakaian seadanya. Kudekati pun ku sapa gadis itu.

“Kau kah Hotma si tangguh yang dulu selalu mengajakku mengajar?”
Wajah itu menolehku seakan penuh tanya.

“Aku sahabatmu Hotma, Pitta!” ku genggam bahunya meyakinkan dan berharap mendapat pelukan darinya. Tapi tidak, tangan itu menarik tanganku dari bahu dan mengajakku ke suatu tempat yang begitu indah, seingatku tempat itu dulu sering kami datangi.

“Oh, kamu Pitta itu?” Katanya seakan baru menemukan jawab atas pertanyaan yang telah lama ia lontarkan.

Apa maksudmu berkata seperti itu Hotma, tanyaku penuh tanda tanya.

“Bukan kak, aku bukan Hotma. Aku kembarannya”

Diambilnya selembar foto dari kantongnya, fotonya bersama Hotma duduk di tepian Tao. Dia mirip sekali dengan Hotma sahabatku.

“Waktu itu kak, dua hari setelah orang kakak tertangkap, surat dari kampus datang ke rumah yang menyatakan bahwa kak Hotma di DO (Drop Out), pun begitu pula yang terjadi pada bang Tiop. Kak Hotma sesungguhnya menderita penyakit jantung stadium atas kak. Dia tak pernah inginkan hal itu terjadi. Berita itu merenggut usia mudanya sedemikian cepat sepeninggal surat itu, dan sebelum hembusan terakhir nafasnya tak lupa kak Hotma menyampaikan salam terakhirnya untuk kakak padaku. Kalau bang Tiop aku tak tau pasti kak, tapi yang ku tau dia bekerja ke Malaysia agar bisa membiayai sekolah adik-adiknya.”

Bagai awan gelap di langit lepas, tak terasa airmataku menetes dengan derasnya. Menetes dengan segudang kenangan yang meledak kala itu juga. Ku peluk tubuh gadis itu, gadis yang mirip dengan sahabatku, dan ya hari itu ku rasakan sebagai hari berkabung untukku.

“Sudahlah kak, setiap orang pasti akan meninggal seirig berjalannya waktu. Kalau kakak tak keberatan, nanti malam aku bisa temani kakak tuk hilangkan rindu pada kakakku di Restoran Panatapan Tao tempat orang kakak biasa bercengkerama bertahun-tahun lalu.” Digenggamnya tanganku, memulihkan rinduku pada 2 orang sahabat yang ku rindu.

Awan cerah tenggelam ditelan malam. Aku menemui kembaran sahabatku di salah satu Restoran panatapan dekat hotel sekitar Tao.

“Mesan apa kita kali ini kak?” tanyanya dengan gaya yang serupa Hotma.

Kucoba balik lembaran kisahku dan sahabat-sahabatku, mengingat makanan dan minuman kesukaan kami. ya, cappuccino. Mengenang sahabatku, ku pesan dua cangkir cappuccino kesukaan kami. Angin sejuk malam itu menusuk ke tulangku. Rindu itu semakin terasa, kala ku seruput dan ku pandang wajah yang sedang duduk di hadapanku.

Ku aduk cappuccino itu perlahan, ku nikmati kepulan asapnya yang menyentuh hidungku. Tapi semakin lama tatapku semakin gelap. Entah kenapa kala ku tatap kembaran sahabatku wajahnya berbayang tak memberi keyakinan pada diriku.  Akankah aku masuk angin? fikirku. Ku genggam tangan gadis itu,

“Dik, kepala kakak pusing ni. Kita pulang aja ya, tapi kamu yang nyetir bisa?” tanyaku sadar tak sadar.

“Kakak kenapa? Yauda deh kak. Yuk!” Ajaknya.

Dibawanya aku ke mobil. Tapi tidak, ia sepertinya tidak sendiri. Dan yang menyetir, sepertinya seorang pria yang menyetir mobil itu. Dinyalakan mesin mobil itu, dijalankan, lalu tiba-tiba berhenti di depan hotel. Ya benar, bukan gadis itu yang menyetir. Tapi seorang pria. Pria itu membuka pintu mobil dan membopongku ke dalam hotel.

Wajahnya, seperti tak asing bagiku. Dengan setengah sadar, aku seakan pasrah dengan keadaan malam itu. hendak ku lawan, ah aku tak punya kekuatan. Dia membawaku ke sebuah kamar hotel, melemparkanku ke atas kasur empuk itu dan kulihat ia membuka bajunya. Lalu, lalu setelah itu aku tak tau apa yang terjadi. Yang ku ingat hanya, waktu itu ada suara tubrukan kuat di telingaku.
            
         Kurasakan cahaya matahari menerpa wajahku, ku buka mata dan aku sudah ada di rumah. Ku lihat mamak di hadapanku membawa sepaket sarapan. Ku raih dan ku makan, setelah itu mamak mengajakku berbincang.
            
“Apa yang terjadi tadi malam Pitta?” tanyanya dengan tatap yang penuh misteri
            
“Tidak ada mak. Aku hanya pergi makan malam dengan kembaran sahabatku Hotma, setelah itu kami pulang karena kepalaku pusing”.
            
    Dirapikan mamak piring bekas sarapanku, lalu dipegangnya kepalaku seakan ingin mengatakan sesuatu yang sangat berharga.

           “Untung bapakmu dan polisi secepatnya melacak keberadaanmu sayang.”
            “Maksud mamak?”
            “Hotma tidak memiliki kembaran Pitta sayang. Hotma hanya satu!”
            “Tidak mak, dia tak mungkin berbohong tentang suatu nyawa!”
            “Tidak mungkin kamu bilang? Dengarkan mama ya, bagaimana seorang tamatan hukum Amsterdam bisa dikibuli dengan suatu foto yang bisa diedit sih? Dan Tiop, dia juga sahabatmu kan?”
“iya mak”
“Dimana dia sekarang?” tanya mamak seolah tau segala hal.
“Dia di Malaysia kan mak?”

“Ya ampun sayang, kamu benar-benar sudah ditipu. Bapakmu tadi malam menemukanmu di sebuah hotel dekat Penatapan, dan Tiop ada di hotel itu. dia hampir menyetubuhimu. Untungnya bapakmu datang tepat waktu. Kau tau, setelah di DO beberapa tahun lalu Tiop dan Hotma didapati telah menjadi pengguna Shabu-shabu dan obat terlarang lainnya. Mereka sudah rusak sayang. Mereka sudah menjadi buronan polisi. Makanya waktu kamu bilang mau ketemu kembaran Hotma tadi malam, papa langsung ngambil pergerakan.”

Aku terdiam dengan tatap kosong. Ku langkahkan kakiku ke dekat jendela kamarku, ku tatap pertiwi yang juga mendengarkan cerita mamakku, dan tanpa berfikir panjang bisa ku simpulkan bahwa dia pun tak menyangka dengan apa yang telah terjadi.

“Ibu pertiwi, kau lah saksi waktu itu. saksi janjiku dan sahabatku bahwa kami kan bertemu suatu saat di waktu yang tepat dengan perjuangan yang masih sama, memperjuangkan nasib rakyat yang tak diperlakukan layaknya manusia. Tapi kenapa pertemuan seperti ini yang kau saksikan? Bukankah ini adalah tanda suatu perpisahan? Oh ibu, anakmu yang dulu sangat menyayangi saudara-saudaranya itu kini telah rusak. Lalu apa lagi yang bisa ku lakukan?”

Aku hanya bisa mengingat pertemuan terakhir kala itu, ku langkahkan kakiku ke kantor polisi, ku tatap kedua sahabatku dari kejauhan. Ku kepalkan tangan kiriku, kuangkat, bukan suaraku yang keluar. Hanya tangis. Tangis yang merindukan perjuangan bersama-sama itu. Mereka melihat, memandang, dengan wajah yang kacau. Tapi mereka membalas bahasa yang ku sampaikan. Airmata itu juga membasahi pipi mereka, menyapu debu yang menempel di wajahnya.

Mata-mata itu, seperti mata yang terakhir kali ku lihat sebelum berangkat ke Amsterdam. Ingin sekali ku peluk kedua sahabatku itu, mengajar anak-anak desa bersama, berdiskusi, berjuang bersama lagi, tapi kali ini tembok raksasa tengah menjulang menguasai jalan setapak yang selalu kami lalui. Berjalanpun, hanya sendiri tak bisa saling menggenggam. Hanya, aku akan selalu menanti sampai waktu yang tepat itu tiba dan mereka pulih dari keadaan yang sedang mengekang mereka dalam pilihan yang sempat diambil.  


Catatan :
Tao : Danau
Panatapan : Pemandangan
Keos : keadaan ricuh / kacau
View : Pemandangan
double glass : sejenis kaca yang sering digunakan untuk apartemen-apartemen

Share:

Reaktualisasi Semangat Pemuda



Oleh: Tohi
Beberapa hari lalu, ada komunitas yang melakukan diskusi di areal salah satu kampus ternama di Sumatera Utara, dengan topik, “Pemuda dalam perspektif sejarah”. Tentu kegiatan tersebut diselenggarakan mengingat tepat 28 Oktober ditandai sebagai momentum sumpah pemuda. Kata “pemuda” yang menyejarah dari era sebelum kemerdekaan, era orde lama, era orde baru, dan era reformasi hingga saat ini, menjadi topik hangat untuk diperbincangkan. Tokoh-tokoh seperti, Semaun, Soekarno, Hatta, Syahrir, Kartini, Ki Hajar Dewantara, Tan Malaka, beserta isi pemikiran, tindakan-tindakan, hingga strategi dalam mewujudkan kemerdekaan menjadi jejak subjek untuk mendefinisikan kata “pemuda”. Meski peserta hanya hitungan jari, diskusi berlangsung alot dari sore hingga malam.
Pemateri mengungkap pemuda cenderung bergerak secara elitis. Berdasarkan analisis aktor seperti tokoh Semaun dan Soekarno memiliki perbedaan, dimana yang satu lahir dari gerakan arus bawah ataupun akar rumput, yakni dari gerakan buruh rel kreta api di Semarang dengan organisasi Serikat Islam. Dan Soekarno dari gerakan intelektual, sebagai hasil pendidikan Hindia Belanda. Secara umum, diambil kesimpulan, ada pemuda yang lahir dari benar-benar kelas bawah dan ada pula dari kelas menengah ke atas namun menyimpan semangat yang sama, merdeka. Kala itu pemuda juga mampu memimpin organisasi besar di umur amat muda, seperti Soekarno yang mendirikian PNI, Semaun yang memimpin PKI, Tan Malaka sebagai pimpinan Partai Komunis se-Asia Tenggara, dan lain-lain. Aktivitas para produsen republik tersebut kian mengisi proses menuju kemerdekaan dengan berdiskusi, menulis (media propaganda), demonstrasi, dan membaca, bersama dan di tengah-tengah masyarakat yang di eksploitasi. Maka tidak heran, sampai saat ini catatan tangan para pejuang itu masih menjadi bahan bacaan penting, seperti “Di Bawah Bendera Revolusi” yang dituliskan oleh Soekarno, “Madilog” yang dituliskan Tan Malaka, “Gerakan Buruh” yang ditulis oleh Semaun, dan lain-lain sebagai referensi proses pendirian Republik ini. Itu artinya tradisi intelektual yang melekat pada pemuda kala itu begitu produktif.
Aktivisme itu pula yang ada pada masa peralihan orde lama menuju era orba yang menghadirkan tokoh seperti, Soe Hok Gie, juga menulis buku “Catatan Seorang Demonstran”. Soe pula dikenal sebagai pencetus gerakan mahasiswa pencinta alam di UI atau yang saat ini dikenal sebagai GEMAPALA. Selain itu masa transisi menuju reformasi, identik dengan gerakan Golput, hingga penggulingan rezim Soeharto yang menelan korban seperti kasus Trisakti berdarah, tentu menjadi lintasan peristiwa yang telah membekas dalam memori kesejarahan negeri ini. Adapun tiap era punya sasaran ataupun musuh bersama yang nyata seperti praktek kolonialisme, otoritarian hingga korupsi era reformasi, dari lawan terhadap asing sampai pada melawan bangsa sendiri. Layaknya pesan yang telah diucapkan Bung Karno. Lantas yang menjadi pertanyaan menohok, bagaimana kondisi pemuda era kekinian?      
Membaca Situasi Kampus  
Membaca wacana media massa akhir-akhir ini, tersiar kabar bahwa jumlah pemuda terus meningkat dan sekarang berjumlah sekitar 103 juta jiwa (Kompas, 29 Oktober 2018). Setelah itu, sering sekali angka tersebut disebut-sebut akan menghasilkan bonus Demografi di Indonesia. Dimana ada perspektif berkesimpulan menaiknya angkatan kerja produktif berpotensi akan menghasilkan peningkatan ekonomi dan berujung pada kesejahteraan masyarakat. Maka tidak heran upaya itu diberengi dengan memasukkan pelajaran wirausaha dalam kurikulum kampus.
Namun, di sisi lain mencuat isu bahwa kaum muda saat ini terlibat dalam gerakan radikalisme dan terorisme. Di kampus-kampus gerakan fundamentalis kian menyebar dan mulai menunjukkan eksistensinya kepada khalayak publik. Terakhir berdasarkan jejak pendapat Kompas, memaparkan kepedulian pemuda pada “persoalan bangsa” semakin lemah, misalnya dalam merespon praktik korupsi yang hangat diperbincangkan (Kompas, 30 Oktober 2018). Soal penangkapan DPR yang terjadi di beberapa daerah seperti di Malang, Sumut, Riau dll yang memperoleh angka fantastis, 40-50% dari jumlah dewan yang ada menjadi fakta kuat di samping tidak sedikit kepala daerah tersangkut tindakan serupa.
Bila berangkat pada kondisi kampus saat ini, melemahnya daya kritik mahasiswa sangat berkorelasi dengan situasi kampus saat ini.  Pertama, jika menilik dari sistem kampus saat ini, cenderung mahasiswa disibukkan dengan tugas-tugas, sistem SKS, putusan tamat 6-7 tahun, dan uang kuliah mahal. Ornamen yang tersistem ini pula berpotensi menghasilkan mental pragmatis bahkan opportunis yang secara tidak langsung mendukung status quo, misal ketika terdapat tindakan koruptif secara gamblang dihiraukan begitu saja.
Kedua, dari segi gaya hidup mahasiswa yang tergerus zaman global telah masuk hingga ke sendi-sendi kehidupan. Misalnya, aktivitas yang didominasi dengan kegiatan shooping, gamers, menonton drama Korea, bioskop, dan online media sosial (dunia maya), kian menjauhkan diri dari kehidupan kampus yang dahulu identik berdiskusi dan aksi sosial, dimana bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat. Artinya tudingan “menara gading” yang dahulu coba dipatahkan kian diterkonfirmasi dalam realitas.
Lantas jika kondisi di atas secara massif terjadi, maka siapa yang di untungkan? Misalnya bila terjadinya praktik pungutan liar (realitas) yang dilakukan birokrat kampus ataupun dosen dengan beragam bentuk-bentuk, entah itu uang PKL, wisuda, yudisium, dll yang dituju kepada mahasiswa terkena UKT (seharusnya tidak kena pungutan di luar UKT). Di tengah situasional demikianlah terjadilah pasivikasi aktivisme mahasiswa, konon lagi bila sumber praktik koruptif di perankan oleh pemerintah daerah ataupun pusat. Terakhir, peningkatan kuantitas pemuda ataupun mahasiswa bukan menjadi bonus demografi melainkan ancaman karena secara tidak sadar mempertahankan status quo dan secara simultan mendefisitkan potensi menaiknya kualitas demokrasi kedepan.
Oleh karena itu, upaya untuk mereaktualisasi semangat pemuda ialah penting untuk segera dimassifkan dengan mengaktifkan kegiatan diskusi, menulis, demonstrasi, dan membaca di kampus-kampus sehingga menjadi semacam tradisi intelektual. Langkah kecil inilah yang secara simultan pula berpotensi menaikkan kritisisme pemuda, sehingga ke depan kampus benar-benar mencetak kader bangsa yang memiliki integritas. Kendati di awal akan menemukan pesimistik karena anggapan cara yang dipakai kurang populer di era ini. Namun tidak ada jalan instan lagi, terlebih berharap akan adanya perubahan pada sistem itu secara terpisah.  Di ujung, tentu semua hal tersebut hanya dapat diwujudkan dengan berorganisasi. Maka dari itu, pemuda, beroganisasilah, salam!      

Share:

Rasanya Menunggu Dosen Pembimbing Yang Tak Pasti


Jika kamu seorang mahasiswa, pastinya akan melewati yang dinamakan menulis skripsi. Dimasa-masa inilah banyak mahasiswa akan mengalami kegalauan. Galau karena menunggu dosen pembimbinglah, ditanyain kapan tamat, bahkan sampai dikata-katain mahasiswa abadi yang suka mengabdi terhadap kampus. Banyak mahasiswa yang merasa menyusun skripsi seperti sebuah perjuangan yang sangat berat, yah beti (beda tipis) sama memperjuangkan gebetan.
Cepat atau lambatnya penyelesaian skripsi disebabkan oleh beberapa hal salah satunya adalah menunggu waktu bimbingan dari dosen pembimbing yang akan senantiasa membimbing. Tapi perlu dicatatat, meskipun seorang dosen pembimbing adakalanya dia salah, jadi tidak selalu yang dikatakan harus diikuti. Sebab dosen pembimbing adalah manusia yang tidak luput dari kesalahan. Sepakat kawan-kawan, udah sepakat aja dosen pembimbing masih makan nasi juga toh sama seperti kamu. Hehehe..
Berbagai jenis-jenis dosen pembimbing akan kamu jumpai. Ada dosen yang pengertian sama mahasiswa dengan menyediakan waktu bimbingan, tapi ada yang membuat janji ketemu saja sangat susah karena jadwalnya yang padat, juga ada yang jawabannya tidak pasti yakni ‘lihat besok’ dan masih banyak jenis lainnya.
Disaat melakukan penulisan skripsi, saya menemukan dosen pembimbing yang memiliki watak yang tidak pasti dan selalu memberi jawaban “lihat besok”. Hello, besok itu kan panjang bro, gak ada habis-habisnya. Pembimbingnya adalah dosen paling nyebelin, bagaimana tidak nyebelin satu minggu ditungguin supaya jumpa bimbingan. Bahkan pada hari ke tujuh sudah nunggu tujuh jam tau-taunya hanya disuruh meletakkan skripsi dimejanya. Lantas bilang paling lambat dua minggu baru bisa bimbingan. Terus setelah dijumpai dua minggu kemudian, dengan pogahnya menjawab “saya lagi sibuk, skripsinya belum diperiksa besok saja saya jumpai”. Plakk, pengen ditampar, dimaki, kalo gak diceburin kekali, eehh sadar lagi, sabar yah nak…!
Tapi lucunya jawaban ini hanya berlaku bagi sebagian orang. Tidak semua mendapat perlakuan yang seperti itu. Berbeda sama mahluk yang satu lagi yakni kaum hawa. Bagi kaum hawa, bimbingan pada dosen ini cukup menyenangkan. Sebab tidak usah menunggu lama kaum hawa dilayani dengan baik, bahkan akan meluangkan waktu sebanyak-banyaknya. Meskipun ada sebagian kaum adam yang dilayani dengan baik, tapi mereka adalah anak buahnya (mahasiswa yang sering bantu-bantu di kantor jurusan).
Bagi mahasiswa yang lagi bimbingan seperti saya, menunggu sudah menjadi hal yang biasa. Jadi, apabila ada pepatah menyatakan bahwa menunggu adalah kerjaan yang sangat membosankan, maka kupikir itu tak berlaku bagi mahasiswa tingkat akhir. Sebab, sudah sering menunggu ketidakpastian. So, menunggu itu itu bagi mahasiswa yang lagi bimbingan adalah berkah. Setidaknya dapat merasakan bahwa dia masih hidup, karena akan merasa kesal, marah, senang dan lain sebagainya.
Kamu yang lagi nyusun tugas akhir dan dalam proses bimbingan, pasti sering menunggu. Menunggu inilah, itulah dan tidak ada kejelasan. Hal ini juga sedang aku rasakan, ditengah tuntutan dari kampung untuk segera menuntaskan kuliah. Maklum hampir sudah dikatakan mahasiswa abadi, yah karena lama tamatnya. Jadi tuntutan dari mana-mana menyerang bagai bak kenangan. Ehk kenangan, sama siapanya. Kok jadi melebar gini yah..!
Ohk kembali lagi kata menunggu. Bagi saya dalam proses penyelesaian tugas akhir, sering mengalami kejadian menunggu didalam ketidakpastiaan. Bagaimana tidak, dosen pembimbingnya tidak punya jadwal yang pasti. Ketika dijumpai dan buat janji jawaban nya juga tidak pasti yakni “lihat besok”, lantas bimbinganpun gak jadi-jadi. Tidak sekali duakali lagi menunggu ketidakpastian ini, tapi sudah berkali-kali. Sampai-sampai ada khayalan angkat kamar kos ke kantor jurusan. Jadi, apabila dosennya datang kita sudah siap untuk bimbingan. Tapi apa daya semua hanya khayalan. Bimbingan tak jadi-jadi, terbengkalai karena pembimbing yang takpasti.
Bosan, sangat mungkin bahkan sampai-sampai kepikiran juga mengerjain dosen pembimbing supaya kekesalan ini terbayar. Tapi kelakuan itu adalah buruk dan tidak akan menyelesaikan masalah. Sehingga rasa bosan, kesal dan seluruh kerumunannya harus dikubur dalam-dalam.
Nah, apabila kerumunan itu lebih dominan disaat menunggu dosen. Ada beberapa trik yang saya lakukan. Biasanya sebelum berangkat kekampus, saya menyediain botol minum yang diisi dengan kopi yang telah diseduh. Jadi disaat menunggu saya selalu ditemani oleh kopi hitam yang setia. Saya juga selalu membawa buku dalam tas, jadi tidak ada alasan tidak melakukan apa-apa disaat menunggu. Makanya waktu menunggu diisi dengan membaca buku baik itu novel atau jenis lainnya. Tapi biasanya saya sih bawa buku novel biar ngak ngantuk.
Nah, ini trik terakhir yang biasanya saya lakukan apabila kedua trik diatas tidak sanggup melawan kebosanan yakni buka laptop. Dengan adanya laptop, berbagai kegiatan dapat dilakukan. Misalkan, menulis kejadian yang dialami saat itu pokoknya apa yang sedang dipikirkan deh. Selain itu jika pikiran juga mentok, tidak dapat mengeluarkan idea apa-apa. Maka jurus jitu yang digunakan adalah menonton. Jadi sebelumnya harus banyakin flim dimemori laptop supaya dapat memilih-milih apa yang disukai. Sehingga jika flim yang satu tidak bagus, maka boleh memilih flim lainnya. Sekian deh, celoteh dari mahasiswa tingkat akhir yang lagi menunggu ketidakpastian.!

Share:

"Catatan Juang" Karya Fiersa Besari


Oleh : Wisely 

Beberapa hari lalu, buku ini dipegang oleh salah seorang gadis yang aktif pada salah satu Orma di Medan. Awalnya aku tidak tertarik, tapi seketika historis Instagram berjalan, banyak kawanku yang memetik kata-kata sambil mencantumkan buku ini. Hari itu, aku sedang tertarik untuk mencari salah satu buku Anderson yang berjudul, Hidup Diluar Tempurung, di lapak buku murah sekitar lapangan Merdeka. Asik berputar-putar melihat beragam buku, buku ini terlintas dari mata dengan harga 35 ribu. Hmp, sempat berpikir panjang, oleh karena tidak mendapatkan buku yang kuinginkan, aku membelinya dengan harga 30 ribu, hahaha.
“Konspirasi Alam Semesta”, sepenggal kata di altar buku ini yang membuatku tertarik. Khayalku isinya menjurus pada pembuktian bahwa hidup ialah sesuatu yang sudah diatur oleh alam. Konsekuensinya jelas, bahwa tiap materi yang bergerak sebagai unsur dalam alam semesta yang mengatur. Itu artinya ada sebuah hukum saling keterkaitan dalam hidup. Salah satu pesan yang juga kudapat sehabis menonton film Rectoverso, bahwa tiap langkah yang kita jalani saling terkait dengan langkah lainnya. Kembali ke buku, dengan judul Catatan Juang, berpadu warna merah ke-orenan, serasa sebuah bacaan anak gerakan. Dan terakhir, dengan harga yang cukup sesuai isi kantong, maka aku putuskan untuk memberlinya.
Tidak sampai tiga hari, buku ini siap kubaca. Harus kuakui, aku menikmati tiap kata yang tersusun dan bercerita tentang seorang anak gadis bernama Suar. Diawal tokoh ini digambarkan sebagai seorang manusia yang terjebak pada sistem industri. Ia bekerja sebagai seles asuransi, meski sewaktu kuliah menjadi Sineas ialah impiannya. Mengambil keputusan untuk keluar dari kantor dan beralih mulai mengejar mimpi, menjadi sebuah awal dinamika cerita. Bukan pula terjadi begitu saja, ada dorongan yang timbul dari seengok buku cacatan seseorang yang jatuh di angkutan umum. Buku itu membungkus sebuah rasa gelisah yang inheren dengan kehidupannya. Kegelisahan yang menumpuk akhirnya mengeluarkan gadis abad modern itu keluar dari zona nyamannya. Dari hidup hanya untuk kebutuhan menjadi hidup untuk mewujudkan keinginan (Seni).
Setelah itu, sang tokoh mulai membuka pintu petualangannya dan mengawali kakinya untuk membuat sebuah dokumenter tentang polemik berdirinya sebuah perusahaan Semen di desa utara tempat ia tinggal. Sukses dengan film yang diberi judul “ekonomi merusak ekosistem”. Membuatnya semakin bergairah, meski penuh dengan tantangan. Kemudian berlanjut untuk membuat sebuah film tentang Marsinah, seorang buruh perempuan yang mati karena menentang kekuasaan masa orde baru. Hingga diakhir cerita, ia ingin membuat film tentang penulis buku catatan  Juang, yang menuntunnya untuk berjalan diluar kotak. Tidak hanya sendiri, ia juga dibantu oleh rekan-rekannya, yakni Ely dan Fajar. Dan sebagai pemberi spirit ada, Dude (pacar Suar), ayah, ibu, dan adik Suar yang selalu mendukung dari belakang. Jadi, Suar bukan superman, melainkan ia berada dalam pusaran superteam yang konsisten dan memiliki jiwa kemanusiaan.
Jika berbicara apa pesan yang ingin disampaikan buku ini, secara subjektif sangat banyak dan juga menggambarkan sebuah kegelisahan anak muda era sekarang. Kecenderungan hidup dibawah tekanan sebuah sistem yang menyesakkan sehingga membuat seseorang merasa terasing dari diri sendiri. Tandanya cukup kontras ketika Suar yang jenuh dimarahi atasannya karena kinerjanya yang merosot. Padahal sebelumnya ia salah satu pegawai terbaik dikantornya. Setelah ia beralih menjadi apa yang dimimpikan, gamblang rasa petualangnya kian mengalir, tidak stastis melainkan penuh dinamika. Ia tidak lagi hidup ala kadarnya, melainkan membuat sebuah perubahan nyata melalui karya. Hal tersebut tampak dari dihentikannya aktivitas perusahaan semen didekat desanya setelah film dokumenternya laris di medsos.
Selain itu, pembaca akan berjumpa pula pada perspektif mengenai cinta yang lebih universal. Adapun sentuhan gagasan kemanusiaan terselip tiap pesan yang disampaikan dalam cacatan juang yang dibaca oleh Suar. Jika dikuras, maka aku sebagai pembaca menyimpulkan buku ini ingin memberi pesan agar kita berupaya untuk memberi arti pada hidup dan berdampak baik kepada sesama. Tidak semata-mata hanya ingin bahagia dengan mengejar kekayaan yang begitu fana melalui tumpukan uang kertas. Cocok banget dengan realitas kehidupan saat ini kan? Hahahaha. Bukankah memupuk peradaban jauh lebih berarti? Meski harus merenggut nyawa? Bukankah ini tanggungjawab seorang yang manusiawi?
Sebagai bahan refleksi sekaligus praktis, susunan cerita dalam naskah ini sangat menghidupkan. Secara diam-diam yang kutangkap, ada anjuran penulis kepada pembaca untuk segera giat untuk menulis. Kenapa? Jikalau rekan-rekan sudah membaca buku ini, bayangkan kalau si Juang tidak menulis? Tentu si Suar akan tetap terjebak dalam sistem yang membelenggu, kehidupan didesanya juga akan tergerus oleh perusahan yang tidak memperdulikan lingkungan. Seketika hanya dengan tulisan, daya ubah tercipta, katakannlah tulisan tersebut telah menumbuhkan spirit dan Suar mematerialkannya menjadi perubahan. Dan itu terjadi ketika sang penulis telah pergi meninggalkan bumi. Keren! Ia tidak lagi hidup tapi gagasannya hidup dibumi!  
So, buku ini sangat bagus dibaca terutama oleh kalangan muda di Indonesia. Apalagi buat yang mau tamat setelah kuliah. Lembar novel ini sangat memberikan sebuat pencerahan untuk menghidupkan hidup. Berdinamika, bukan seperti robot yang mekanistik. Sebagai seorang pembaca, misteri siapa penulis buku catatan terebut tidak hanya mengandung rasa penasaran bagi si Suar melainkan aku juga. Itu point plus bagi buku ini, sehingga merangsang untuk terus menerus membaca. Selain itu kata yang digunakan juga sangat mudah dicerna. Terakhir, endingnya tidak tertebak dan pas, good job buat Fiersa Besari, hahahah.

Share:

Postingan Populer

Labels

Postingan Terbaru