Media Kreativitas, Untuk Menunjukkan Eksistensi

Reaktualisasi Semangat Pemuda



Oleh: Tohi
Beberapa hari lalu, ada komunitas yang melakukan diskusi di areal salah satu kampus ternama di Sumatera Utara, dengan topik, “Pemuda dalam perspektif sejarah”. Tentu kegiatan tersebut diselenggarakan mengingat tepat 28 Oktober ditandai sebagai momentum sumpah pemuda. Kata “pemuda” yang menyejarah dari era sebelum kemerdekaan, era orde lama, era orde baru, dan era reformasi hingga saat ini, menjadi topik hangat untuk diperbincangkan. Tokoh-tokoh seperti, Semaun, Soekarno, Hatta, Syahrir, Kartini, Ki Hajar Dewantara, Tan Malaka, beserta isi pemikiran, tindakan-tindakan, hingga strategi dalam mewujudkan kemerdekaan menjadi jejak subjek untuk mendefinisikan kata “pemuda”. Meski peserta hanya hitungan jari, diskusi berlangsung alot dari sore hingga malam.
Pemateri mengungkap pemuda cenderung bergerak secara elitis. Berdasarkan analisis aktor seperti tokoh Semaun dan Soekarno memiliki perbedaan, dimana yang satu lahir dari gerakan arus bawah ataupun akar rumput, yakni dari gerakan buruh rel kreta api di Semarang dengan organisasi Serikat Islam. Dan Soekarno dari gerakan intelektual, sebagai hasil pendidikan Hindia Belanda. Secara umum, diambil kesimpulan, ada pemuda yang lahir dari benar-benar kelas bawah dan ada pula dari kelas menengah ke atas namun menyimpan semangat yang sama, merdeka. Kala itu pemuda juga mampu memimpin organisasi besar di umur amat muda, seperti Soekarno yang mendirikian PNI, Semaun yang memimpin PKI, Tan Malaka sebagai pimpinan Partai Komunis se-Asia Tenggara, dan lain-lain. Aktivitas para produsen republik tersebut kian mengisi proses menuju kemerdekaan dengan berdiskusi, menulis (media propaganda), demonstrasi, dan membaca, bersama dan di tengah-tengah masyarakat yang di eksploitasi. Maka tidak heran, sampai saat ini catatan tangan para pejuang itu masih menjadi bahan bacaan penting, seperti “Di Bawah Bendera Revolusi” yang dituliskan oleh Soekarno, “Madilog” yang dituliskan Tan Malaka, “Gerakan Buruh” yang ditulis oleh Semaun, dan lain-lain sebagai referensi proses pendirian Republik ini. Itu artinya tradisi intelektual yang melekat pada pemuda kala itu begitu produktif.
Aktivisme itu pula yang ada pada masa peralihan orde lama menuju era orba yang menghadirkan tokoh seperti, Soe Hok Gie, juga menulis buku “Catatan Seorang Demonstran”. Soe pula dikenal sebagai pencetus gerakan mahasiswa pencinta alam di UI atau yang saat ini dikenal sebagai GEMAPALA. Selain itu masa transisi menuju reformasi, identik dengan gerakan Golput, hingga penggulingan rezim Soeharto yang menelan korban seperti kasus Trisakti berdarah, tentu menjadi lintasan peristiwa yang telah membekas dalam memori kesejarahan negeri ini. Adapun tiap era punya sasaran ataupun musuh bersama yang nyata seperti praktek kolonialisme, otoritarian hingga korupsi era reformasi, dari lawan terhadap asing sampai pada melawan bangsa sendiri. Layaknya pesan yang telah diucapkan Bung Karno. Lantas yang menjadi pertanyaan menohok, bagaimana kondisi pemuda era kekinian?      
Membaca Situasi Kampus  
Membaca wacana media massa akhir-akhir ini, tersiar kabar bahwa jumlah pemuda terus meningkat dan sekarang berjumlah sekitar 103 juta jiwa (Kompas, 29 Oktober 2018). Setelah itu, sering sekali angka tersebut disebut-sebut akan menghasilkan bonus Demografi di Indonesia. Dimana ada perspektif berkesimpulan menaiknya angkatan kerja produktif berpotensi akan menghasilkan peningkatan ekonomi dan berujung pada kesejahteraan masyarakat. Maka tidak heran upaya itu diberengi dengan memasukkan pelajaran wirausaha dalam kurikulum kampus.
Namun, di sisi lain mencuat isu bahwa kaum muda saat ini terlibat dalam gerakan radikalisme dan terorisme. Di kampus-kampus gerakan fundamentalis kian menyebar dan mulai menunjukkan eksistensinya kepada khalayak publik. Terakhir berdasarkan jejak pendapat Kompas, memaparkan kepedulian pemuda pada “persoalan bangsa” semakin lemah, misalnya dalam merespon praktik korupsi yang hangat diperbincangkan (Kompas, 30 Oktober 2018). Soal penangkapan DPR yang terjadi di beberapa daerah seperti di Malang, Sumut, Riau dll yang memperoleh angka fantastis, 40-50% dari jumlah dewan yang ada menjadi fakta kuat di samping tidak sedikit kepala daerah tersangkut tindakan serupa.
Bila berangkat pada kondisi kampus saat ini, melemahnya daya kritik mahasiswa sangat berkorelasi dengan situasi kampus saat ini.  Pertama, jika menilik dari sistem kampus saat ini, cenderung mahasiswa disibukkan dengan tugas-tugas, sistem SKS, putusan tamat 6-7 tahun, dan uang kuliah mahal. Ornamen yang tersistem ini pula berpotensi menghasilkan mental pragmatis bahkan opportunis yang secara tidak langsung mendukung status quo, misal ketika terdapat tindakan koruptif secara gamblang dihiraukan begitu saja.
Kedua, dari segi gaya hidup mahasiswa yang tergerus zaman global telah masuk hingga ke sendi-sendi kehidupan. Misalnya, aktivitas yang didominasi dengan kegiatan shooping, gamers, menonton drama Korea, bioskop, dan online media sosial (dunia maya), kian menjauhkan diri dari kehidupan kampus yang dahulu identik berdiskusi dan aksi sosial, dimana bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat. Artinya tudingan “menara gading” yang dahulu coba dipatahkan kian diterkonfirmasi dalam realitas.
Lantas jika kondisi di atas secara massif terjadi, maka siapa yang di untungkan? Misalnya bila terjadinya praktik pungutan liar (realitas) yang dilakukan birokrat kampus ataupun dosen dengan beragam bentuk-bentuk, entah itu uang PKL, wisuda, yudisium, dll yang dituju kepada mahasiswa terkena UKT (seharusnya tidak kena pungutan di luar UKT). Di tengah situasional demikianlah terjadilah pasivikasi aktivisme mahasiswa, konon lagi bila sumber praktik koruptif di perankan oleh pemerintah daerah ataupun pusat. Terakhir, peningkatan kuantitas pemuda ataupun mahasiswa bukan menjadi bonus demografi melainkan ancaman karena secara tidak sadar mempertahankan status quo dan secara simultan mendefisitkan potensi menaiknya kualitas demokrasi kedepan.
Oleh karena itu, upaya untuk mereaktualisasi semangat pemuda ialah penting untuk segera dimassifkan dengan mengaktifkan kegiatan diskusi, menulis, demonstrasi, dan membaca di kampus-kampus sehingga menjadi semacam tradisi intelektual. Langkah kecil inilah yang secara simultan pula berpotensi menaikkan kritisisme pemuda, sehingga ke depan kampus benar-benar mencetak kader bangsa yang memiliki integritas. Kendati di awal akan menemukan pesimistik karena anggapan cara yang dipakai kurang populer di era ini. Namun tidak ada jalan instan lagi, terlebih berharap akan adanya perubahan pada sistem itu secara terpisah.  Di ujung, tentu semua hal tersebut hanya dapat diwujudkan dengan berorganisasi. Maka dari itu, pemuda, beroganisasilah, salam!      

Share:

No comments:

Post a Comment

Postingan Populer

Labels

Postingan Terbaru