Oleh : Yustari Sinaga
Di
apartemen baru ini, di desa R tempat tali pusarku ditanam, bapak dan mamakku
mengajakku tinggal setelah kuraih gelar sarjana Hukum dari Universiteit van
Amsterdam (UvA). Bangunan yang menjulang tinggi menantang langit ini
menampilkan segala keindahan di sekelilingnya. Bukit yang berbaris, danau yang
terhampar luas, pun sawah hijau yang terbentang bak permadani hijau, memanjakan
mataku yang telah lama merindukan buaian sang pertiwi. Sekeliling apartemen
yang dikelilingi rumah-rumah masyarakat batak yang masih sangat sederhana,
benar-benar menampilkan view yang
luar biasa dan tak terkatakan. Dari dinding berlapis kaca double glass ini, ku lemparkan pandangku dengan kedipan yang begitu
lambat, seakan enggan kehilangan sedikitpun keindahan yang disajikan. Tapi
benarkah ini desa R yang dulu menjadi tempatku bermain bersama sahabatku Pitta
dan Tiop?
Beberapa
tahun yang lalu, dipelukan pertiwi kami mengukir kisah, kisah yang tak
terlupakan.
“Pitta,
Hotma, boleh aku bertanya pada kalian?” Suara Tiop, sahabatku menggema dari
balik tembok batu di tepi Tao. Hotma
mendeham, aku hanya terdiam menatap indahnya hamparan Tao menantikan Tiop
mengutarakan tanyanya.
“Disini,
dipelukan ibu pertiwi kalian sudah menyaksikan betapa orang pribumi yang membela
hak orang lemah sama sekali tak dianggap benar. Lalu, akankah kalian kini juga
akan mengikut langkah orang-orang yang memilih jalan tenang – diam itu?”
Tiop
membawa langkahnya ke tepi Tao, berbalik arah dan kembali menatap kami tajam.
“Adilkah
menurut kalian pendapat-pendapat dibungkam srikandi bumi Indonesiaku?”
Dua
pasang mata kini dilempar kearah kami. Pria setengah baya berbaju pantai gambar
Bob Marley. Dengan dua gelas kopi di hadapan mereka, pemuda yang duduk di
Pondok bambu itu secepatnya melempar tatap ke Tao kala ku toleh kearah mereka.
Entah Tiop dan Hotma memperhatikannya atau tidak akupun tak tau. Ku lirik
mereka, ternyata mereka sedang berbisik dan bibir salah satu pemuda itu
menunjuk nunjuk kearah kami.
Awan
gelap tampak menjadi langit-langit kami berpijak kala itu. Hotma mengutak-atik
Handphone di tangannya, melihat ulang kejadian yang baru terjadi di bundaran A
beberapa hari yang lalu.
“Tiop kau tau, takkan ada seorangpun yang akan
memilih diam untuk ditindas kecuali dia pengecut!”
Dengan
lantang Hotma membalas pertanyaan Tiop. Aku sedikit merunduk, mencoret-coret
pasir pantai dengan kayu ditangan dan memberi kode kepada Tiop dan Hotma kalau
sebenarnya ada intel yang sedang memata-matai kami. Aksi Keos beberapa hari lalu ternyata tak membuat polisi diam. Mereka
terus memantau dan mencari daftar orang-orang yang terlibat dalam aksi revolusi
pendidikan kala itu.
Tiop
tersenyum sinis, memberi aba-aba tuk lari. Ternyata intel itu telah membaca
gerak kami sejak awal. Secepat kilat kami ambil gerak dan berlari menyelamatkan
diri. Tapi ternyata Kami terlambat. Intel itu telah menyusun strategi lebih
dulu dengan kumpulannya tuk mengepung kami.
Kami
tertangkap. Ya, usai sudah fikirku. Yang ada dalam bayangku hanyalah tatap
mamak juga bapak yang penuh kecewa sedang menanti di depan jeruji besi. Bapak
pasti marah dan malu dengan sikapku yang dianggap tak terpuji, pun pasti dia
malu karena sebagai seorang kepala Kepolisian dia memiliki seorang putri
sepertiku. Mamak, ah entahlah yang ku bayangkan dia pasti akan memindahkanku
kuliah ke luar negeri.
Tepat
dugaanku. Mamak dan bapak mengeluarkan biaya yang mahal tuk keluarkanku dari
jeruji besi, dan ya surat pindah sudah diatur mamak agar aku kuliah di
Amsterdam.
“Masihkah
hukum Indonesia berjalan dengan semestinya? Atau kini hukum tunduk dibawah
kekuasaan uang? Haha!” pekik Tiop dari balik jeruji besi.
Intel
itu menatap Tiop dengan sinis. Hotma hanya menangis. Entah apa yang difikirkannya.
Aku hanya menduga ia takut bila orangtuanya tau, ia takkan melanjutkan
kuliahnya lagi, karena orangtuanya sangat anti dengan anak-anak yang katanya
brutal. Ah tapi biasalah namanya orangtua, rasa takut dari apa yang didengar
melalui orang lain terkadang dibuat berlebihan, dan tak memikirkan alasan yang
sesungguhnya.
Ku toleh ke belakang, menatap Tiop dan Hotma
tuk yang terakhir kali. Tatap dan senyum Tiop juga Hotma begitu tulus.
“Pitta,
ku harap kau tetap berpihak kepada orang lemah Srikandi bumi Indonesiaku.
Sukses studimu, aku akan menunggumu dalam peluk ibu pertiwi lagi suatu saat
nanti. Ingat Pitta, seseorang baru akan dikatakan manusia bila ia sudah bisa
memanusiakan manusia!”
Dikepalkan tangan kirinya ke atas, sebagai
suatu ingatan abadi sebelum perpisahan kami. Ku balas kepalan itu sebagai
perpisahan yang mengharap pertemuan lagi suatu saat nanti. Mulai saat itu aku
tak lagi melihat mereka, Tiop dan Hotma setelah penerbanganku ke Amsterdam.
Ku
nikmati hari-hari panjang di Amsterdam. Teman baru, suasana baru, kota baru,,
makanan baru, dan hal lainnya, tapi tak bisa ku temukan seperti yang ku temukan
di Indonesia. Bertahun-tahun berlalu ditelan waktu dalam usahaku meraih gelar
sarjana hukum di Amsterdam.
Kini
aku telah kembali, menikmati buaian mesra yang ku rindukan sejak lama. Dengan
buku di tanganku dan secangkir kopi yang manjakan hidung pun lidahku, aku
merindukan sahabat-sahabatku. Ibu pertiwi seolah berbisik agar ku cari dua
insan itu. Ku langkahkan kaki tuk yang pertama kalinya setelah bertahun-tahun jauh
dari tubuh ibu pertiwi. Dengan jaket yang membalut tubuhku, ku nikmati udara
segar seperti baru pertama kali merasakannya. Ku tatap senyum dan cekikik bebas
bocah yang ku lewati, membayar lunas kerinduan yang menggerogotiku.
Di
satu sudut desa itu, aku melihat satu senyum yang tak asing bagiku. Senyum
seorang insan manis pun anggun yang sedang mengajar sekumpulan anak-anak imut
yang memakai pakaian seadanya. Kudekati pun ku sapa gadis itu.
“Kau
kah Hotma si tangguh yang dulu selalu mengajakku mengajar?”
Wajah
itu menolehku seakan penuh tanya.
“Aku
sahabatmu Hotma, Pitta!” ku genggam bahunya meyakinkan dan berharap mendapat
pelukan darinya. Tapi tidak, tangan itu menarik tanganku dari bahu dan
mengajakku ke suatu tempat yang begitu indah, seingatku tempat itu dulu sering
kami datangi.
“Oh,
kamu Pitta itu?” Katanya seakan baru menemukan jawab atas pertanyaan yang telah
lama ia lontarkan.
Apa
maksudmu berkata seperti itu Hotma, tanyaku penuh tanda tanya.
“Bukan
kak, aku bukan Hotma. Aku kembarannya”
Diambilnya
selembar foto dari kantongnya, fotonya bersama Hotma duduk di tepian Tao. Dia
mirip sekali dengan Hotma sahabatku.
“Waktu
itu kak, dua hari setelah orang kakak tertangkap, surat dari kampus datang ke
rumah yang menyatakan bahwa kak Hotma di DO (Drop Out), pun begitu pula yang
terjadi pada bang Tiop. Kak Hotma sesungguhnya menderita penyakit jantung
stadium atas kak. Dia tak pernah inginkan hal itu terjadi. Berita itu merenggut
usia mudanya sedemikian cepat sepeninggal surat itu, dan sebelum hembusan
terakhir nafasnya tak lupa kak Hotma menyampaikan salam terakhirnya untuk kakak
padaku. Kalau bang Tiop aku tak tau pasti kak, tapi yang ku tau dia bekerja ke
Malaysia agar bisa membiayai sekolah adik-adiknya.”
Bagai
awan gelap di langit lepas, tak terasa airmataku menetes dengan derasnya. Menetes
dengan segudang kenangan yang meledak kala itu juga. Ku peluk tubuh gadis itu,
gadis yang mirip dengan sahabatku, dan ya hari itu ku rasakan sebagai hari
berkabung untukku.
“Sudahlah
kak, setiap orang pasti akan meninggal seirig berjalannya waktu. Kalau kakak
tak keberatan, nanti malam aku bisa temani kakak tuk hilangkan rindu pada
kakakku di Restoran Panatapan Tao
tempat orang kakak biasa bercengkerama bertahun-tahun lalu.” Digenggamnya
tanganku, memulihkan rinduku pada 2 orang sahabat yang ku rindu.
Awan
cerah tenggelam ditelan malam. Aku menemui kembaran sahabatku di salah satu
Restoran panatapan dekat hotel sekitar Tao.
“Mesan
apa kita kali ini kak?” tanyanya dengan gaya yang serupa Hotma.
Kucoba
balik lembaran kisahku dan sahabat-sahabatku, mengingat makanan dan minuman
kesukaan kami. ya, cappuccino. Mengenang sahabatku, ku pesan dua cangkir
cappuccino kesukaan kami. Angin sejuk malam itu menusuk ke tulangku. Rindu itu
semakin terasa, kala ku seruput dan ku pandang wajah yang sedang duduk di
hadapanku.
Ku
aduk cappuccino itu perlahan, ku nikmati kepulan asapnya yang menyentuh
hidungku. Tapi semakin lama tatapku semakin gelap. Entah kenapa kala ku tatap
kembaran sahabatku wajahnya berbayang tak memberi keyakinan pada diriku. Akankah aku masuk angin? fikirku. Ku genggam
tangan gadis itu,
“Dik,
kepala kakak pusing ni. Kita pulang aja ya, tapi kamu yang nyetir bisa?”
tanyaku sadar tak sadar.
“Kakak
kenapa? Yauda deh kak. Yuk!” Ajaknya.
Dibawanya
aku ke mobil. Tapi tidak, ia sepertinya tidak sendiri. Dan yang menyetir,
sepertinya seorang pria yang menyetir mobil itu. Dinyalakan mesin mobil itu,
dijalankan, lalu tiba-tiba berhenti di depan hotel. Ya benar, bukan gadis itu
yang menyetir. Tapi seorang pria. Pria itu membuka pintu mobil dan membopongku
ke dalam hotel.
Wajahnya,
seperti tak asing bagiku. Dengan setengah sadar, aku seakan pasrah dengan
keadaan malam itu. hendak ku lawan, ah aku tak punya kekuatan. Dia membawaku ke
sebuah kamar hotel, melemparkanku ke atas kasur empuk itu dan kulihat ia
membuka bajunya. Lalu, lalu setelah itu aku tak tau apa yang terjadi. Yang ku
ingat hanya, waktu itu ada suara tubrukan kuat di telingaku.
Kurasakan cahaya matahari menerpa
wajahku, ku buka mata dan aku sudah ada di rumah. Ku lihat mamak di hadapanku
membawa sepaket sarapan. Ku raih dan ku makan, setelah itu mamak mengajakku berbincang.
“Apa yang terjadi tadi malam Pitta?”
tanyanya dengan tatap yang penuh misteri
“Tidak ada mak. Aku hanya pergi
makan malam dengan kembaran sahabatku Hotma, setelah itu kami pulang karena
kepalaku pusing”.
Dirapikan mamak piring bekas
sarapanku, lalu dipegangnya kepalaku seakan ingin mengatakan sesuatu yang
sangat berharga.
“Untung bapakmu dan polisi
secepatnya melacak keberadaanmu sayang.”
“Maksud mamak?”
“Hotma tidak memiliki kembaran Pitta
sayang. Hotma hanya satu!”
“Tidak mak, dia tak mungkin
berbohong tentang suatu nyawa!”
“Tidak mungkin kamu bilang? Dengarkan
mama ya, bagaimana seorang tamatan hukum Amsterdam bisa dikibuli dengan suatu
foto yang bisa diedit sih? Dan Tiop, dia juga sahabatmu kan?”
“iya
mak”
“Dimana
dia sekarang?” tanya mamak seolah tau segala hal.
“Dia
di Malaysia kan mak?”
“Ya
ampun sayang, kamu benar-benar sudah ditipu. Bapakmu tadi malam menemukanmu di
sebuah hotel dekat Penatapan, dan Tiop ada di hotel itu. dia hampir
menyetubuhimu. Untungnya bapakmu datang tepat waktu. Kau tau, setelah di DO
beberapa tahun lalu Tiop dan Hotma didapati telah menjadi pengguna Shabu-shabu
dan obat terlarang lainnya. Mereka sudah rusak sayang. Mereka sudah menjadi
buronan polisi. Makanya waktu kamu bilang mau ketemu kembaran Hotma tadi malam,
papa langsung ngambil pergerakan.”
Aku
terdiam dengan tatap kosong. Ku langkahkan kakiku ke dekat jendela kamarku, ku
tatap pertiwi yang juga mendengarkan cerita mamakku, dan tanpa berfikir panjang
bisa ku simpulkan bahwa dia pun tak menyangka dengan apa yang telah terjadi.
“Ibu
pertiwi, kau lah saksi waktu itu. saksi janjiku dan sahabatku bahwa kami kan
bertemu suatu saat di waktu yang tepat dengan perjuangan yang masih sama, memperjuangkan
nasib rakyat yang tak diperlakukan layaknya manusia. Tapi kenapa pertemuan
seperti ini yang kau saksikan? Bukankah ini adalah tanda suatu perpisahan? Oh
ibu, anakmu yang dulu sangat menyayangi saudara-saudaranya itu kini telah
rusak. Lalu apa lagi yang bisa ku lakukan?”
Aku
hanya bisa mengingat pertemuan terakhir kala itu, ku langkahkan kakiku ke
kantor polisi, ku tatap kedua sahabatku dari kejauhan. Ku kepalkan tangan
kiriku, kuangkat, bukan suaraku yang keluar. Hanya tangis. Tangis yang
merindukan perjuangan bersama-sama itu. Mereka melihat, memandang, dengan wajah
yang kacau. Tapi mereka membalas bahasa yang ku sampaikan. Airmata itu juga
membasahi pipi mereka, menyapu debu yang menempel di wajahnya.
Mata-mata
itu, seperti mata yang terakhir kali ku lihat sebelum berangkat ke Amsterdam. Ingin
sekali ku peluk kedua sahabatku itu, mengajar anak-anak desa bersama,
berdiskusi, berjuang bersama lagi, tapi kali ini tembok raksasa tengah
menjulang menguasai jalan setapak yang selalu kami lalui. Berjalanpun, hanya
sendiri tak bisa saling menggenggam. Hanya, aku akan selalu menanti sampai
waktu yang tepat itu tiba dan mereka pulih dari keadaan yang sedang mengekang
mereka dalam pilihan yang sempat diambil.
Catatan
:
Tao : Danau
Panatapan : Pemandangan
Keos : keadaan
ricuh / kacau
View : Pemandangan
double glass : sejenis
kaca yang sering digunakan untuk apartemen-apartemen