Media Kreativitas, Untuk Menunjukkan Eksistensi

Rasanya Menunggu Dosen Pembimbing Yang Tak Pasti


Jika kamu seorang mahasiswa, pastinya akan melewati yang dinamakan menulis skripsi. Dimasa-masa inilah banyak mahasiswa akan mengalami kegalauan. Galau karena menunggu dosen pembimbinglah, ditanyain kapan tamat, bahkan sampai dikata-katain mahasiswa abadi yang suka mengabdi terhadap kampus. Banyak mahasiswa yang merasa menyusun skripsi seperti sebuah perjuangan yang sangat berat, yah beti (beda tipis) sama memperjuangkan gebetan.
Cepat atau lambatnya penyelesaian skripsi disebabkan oleh beberapa hal salah satunya adalah menunggu waktu bimbingan dari dosen pembimbing yang akan senantiasa membimbing. Tapi perlu dicatatat, meskipun seorang dosen pembimbing adakalanya dia salah, jadi tidak selalu yang dikatakan harus diikuti. Sebab dosen pembimbing adalah manusia yang tidak luput dari kesalahan. Sepakat kawan-kawan, udah sepakat aja dosen pembimbing masih makan nasi juga toh sama seperti kamu. Hehehe..
Berbagai jenis-jenis dosen pembimbing akan kamu jumpai. Ada dosen yang pengertian sama mahasiswa dengan menyediakan waktu bimbingan, tapi ada yang membuat janji ketemu saja sangat susah karena jadwalnya yang padat, juga ada yang jawabannya tidak pasti yakni ‘lihat besok’ dan masih banyak jenis lainnya.
Disaat melakukan penulisan skripsi, saya menemukan dosen pembimbing yang memiliki watak yang tidak pasti dan selalu memberi jawaban “lihat besok”. Hello, besok itu kan panjang bro, gak ada habis-habisnya. Pembimbingnya adalah dosen paling nyebelin, bagaimana tidak nyebelin satu minggu ditungguin supaya jumpa bimbingan. Bahkan pada hari ke tujuh sudah nunggu tujuh jam tau-taunya hanya disuruh meletakkan skripsi dimejanya. Lantas bilang paling lambat dua minggu baru bisa bimbingan. Terus setelah dijumpai dua minggu kemudian, dengan pogahnya menjawab “saya lagi sibuk, skripsinya belum diperiksa besok saja saya jumpai”. Plakk, pengen ditampar, dimaki, kalo gak diceburin kekali, eehh sadar lagi, sabar yah nak…!
Tapi lucunya jawaban ini hanya berlaku bagi sebagian orang. Tidak semua mendapat perlakuan yang seperti itu. Berbeda sama mahluk yang satu lagi yakni kaum hawa. Bagi kaum hawa, bimbingan pada dosen ini cukup menyenangkan. Sebab tidak usah menunggu lama kaum hawa dilayani dengan baik, bahkan akan meluangkan waktu sebanyak-banyaknya. Meskipun ada sebagian kaum adam yang dilayani dengan baik, tapi mereka adalah anak buahnya (mahasiswa yang sering bantu-bantu di kantor jurusan).
Bagi mahasiswa yang lagi bimbingan seperti saya, menunggu sudah menjadi hal yang biasa. Jadi, apabila ada pepatah menyatakan bahwa menunggu adalah kerjaan yang sangat membosankan, maka kupikir itu tak berlaku bagi mahasiswa tingkat akhir. Sebab, sudah sering menunggu ketidakpastian. So, menunggu itu itu bagi mahasiswa yang lagi bimbingan adalah berkah. Setidaknya dapat merasakan bahwa dia masih hidup, karena akan merasa kesal, marah, senang dan lain sebagainya.
Kamu yang lagi nyusun tugas akhir dan dalam proses bimbingan, pasti sering menunggu. Menunggu inilah, itulah dan tidak ada kejelasan. Hal ini juga sedang aku rasakan, ditengah tuntutan dari kampung untuk segera menuntaskan kuliah. Maklum hampir sudah dikatakan mahasiswa abadi, yah karena lama tamatnya. Jadi tuntutan dari mana-mana menyerang bagai bak kenangan. Ehk kenangan, sama siapanya. Kok jadi melebar gini yah..!
Ohk kembali lagi kata menunggu. Bagi saya dalam proses penyelesaian tugas akhir, sering mengalami kejadian menunggu didalam ketidakpastiaan. Bagaimana tidak, dosen pembimbingnya tidak punya jadwal yang pasti. Ketika dijumpai dan buat janji jawaban nya juga tidak pasti yakni “lihat besok”, lantas bimbinganpun gak jadi-jadi. Tidak sekali duakali lagi menunggu ketidakpastian ini, tapi sudah berkali-kali. Sampai-sampai ada khayalan angkat kamar kos ke kantor jurusan. Jadi, apabila dosennya datang kita sudah siap untuk bimbingan. Tapi apa daya semua hanya khayalan. Bimbingan tak jadi-jadi, terbengkalai karena pembimbing yang takpasti.
Bosan, sangat mungkin bahkan sampai-sampai kepikiran juga mengerjain dosen pembimbing supaya kekesalan ini terbayar. Tapi kelakuan itu adalah buruk dan tidak akan menyelesaikan masalah. Sehingga rasa bosan, kesal dan seluruh kerumunannya harus dikubur dalam-dalam.
Nah, apabila kerumunan itu lebih dominan disaat menunggu dosen. Ada beberapa trik yang saya lakukan. Biasanya sebelum berangkat kekampus, saya menyediain botol minum yang diisi dengan kopi yang telah diseduh. Jadi disaat menunggu saya selalu ditemani oleh kopi hitam yang setia. Saya juga selalu membawa buku dalam tas, jadi tidak ada alasan tidak melakukan apa-apa disaat menunggu. Makanya waktu menunggu diisi dengan membaca buku baik itu novel atau jenis lainnya. Tapi biasanya saya sih bawa buku novel biar ngak ngantuk.
Nah, ini trik terakhir yang biasanya saya lakukan apabila kedua trik diatas tidak sanggup melawan kebosanan yakni buka laptop. Dengan adanya laptop, berbagai kegiatan dapat dilakukan. Misalkan, menulis kejadian yang dialami saat itu pokoknya apa yang sedang dipikirkan deh. Selain itu jika pikiran juga mentok, tidak dapat mengeluarkan idea apa-apa. Maka jurus jitu yang digunakan adalah menonton. Jadi sebelumnya harus banyakin flim dimemori laptop supaya dapat memilih-milih apa yang disukai. Sehingga jika flim yang satu tidak bagus, maka boleh memilih flim lainnya. Sekian deh, celoteh dari mahasiswa tingkat akhir yang lagi menunggu ketidakpastian.!

Share:

"Catatan Juang" Karya Fiersa Besari


Oleh : Wisely 

Beberapa hari lalu, buku ini dipegang oleh salah seorang gadis yang aktif pada salah satu Orma di Medan. Awalnya aku tidak tertarik, tapi seketika historis Instagram berjalan, banyak kawanku yang memetik kata-kata sambil mencantumkan buku ini. Hari itu, aku sedang tertarik untuk mencari salah satu buku Anderson yang berjudul, Hidup Diluar Tempurung, di lapak buku murah sekitar lapangan Merdeka. Asik berputar-putar melihat beragam buku, buku ini terlintas dari mata dengan harga 35 ribu. Hmp, sempat berpikir panjang, oleh karena tidak mendapatkan buku yang kuinginkan, aku membelinya dengan harga 30 ribu, hahaha.
“Konspirasi Alam Semesta”, sepenggal kata di altar buku ini yang membuatku tertarik. Khayalku isinya menjurus pada pembuktian bahwa hidup ialah sesuatu yang sudah diatur oleh alam. Konsekuensinya jelas, bahwa tiap materi yang bergerak sebagai unsur dalam alam semesta yang mengatur. Itu artinya ada sebuah hukum saling keterkaitan dalam hidup. Salah satu pesan yang juga kudapat sehabis menonton film Rectoverso, bahwa tiap langkah yang kita jalani saling terkait dengan langkah lainnya. Kembali ke buku, dengan judul Catatan Juang, berpadu warna merah ke-orenan, serasa sebuah bacaan anak gerakan. Dan terakhir, dengan harga yang cukup sesuai isi kantong, maka aku putuskan untuk memberlinya.
Tidak sampai tiga hari, buku ini siap kubaca. Harus kuakui, aku menikmati tiap kata yang tersusun dan bercerita tentang seorang anak gadis bernama Suar. Diawal tokoh ini digambarkan sebagai seorang manusia yang terjebak pada sistem industri. Ia bekerja sebagai seles asuransi, meski sewaktu kuliah menjadi Sineas ialah impiannya. Mengambil keputusan untuk keluar dari kantor dan beralih mulai mengejar mimpi, menjadi sebuah awal dinamika cerita. Bukan pula terjadi begitu saja, ada dorongan yang timbul dari seengok buku cacatan seseorang yang jatuh di angkutan umum. Buku itu membungkus sebuah rasa gelisah yang inheren dengan kehidupannya. Kegelisahan yang menumpuk akhirnya mengeluarkan gadis abad modern itu keluar dari zona nyamannya. Dari hidup hanya untuk kebutuhan menjadi hidup untuk mewujudkan keinginan (Seni).
Setelah itu, sang tokoh mulai membuka pintu petualangannya dan mengawali kakinya untuk membuat sebuah dokumenter tentang polemik berdirinya sebuah perusahaan Semen di desa utara tempat ia tinggal. Sukses dengan film yang diberi judul “ekonomi merusak ekosistem”. Membuatnya semakin bergairah, meski penuh dengan tantangan. Kemudian berlanjut untuk membuat sebuah film tentang Marsinah, seorang buruh perempuan yang mati karena menentang kekuasaan masa orde baru. Hingga diakhir cerita, ia ingin membuat film tentang penulis buku catatan  Juang, yang menuntunnya untuk berjalan diluar kotak. Tidak hanya sendiri, ia juga dibantu oleh rekan-rekannya, yakni Ely dan Fajar. Dan sebagai pemberi spirit ada, Dude (pacar Suar), ayah, ibu, dan adik Suar yang selalu mendukung dari belakang. Jadi, Suar bukan superman, melainkan ia berada dalam pusaran superteam yang konsisten dan memiliki jiwa kemanusiaan.
Jika berbicara apa pesan yang ingin disampaikan buku ini, secara subjektif sangat banyak dan juga menggambarkan sebuah kegelisahan anak muda era sekarang. Kecenderungan hidup dibawah tekanan sebuah sistem yang menyesakkan sehingga membuat seseorang merasa terasing dari diri sendiri. Tandanya cukup kontras ketika Suar yang jenuh dimarahi atasannya karena kinerjanya yang merosot. Padahal sebelumnya ia salah satu pegawai terbaik dikantornya. Setelah ia beralih menjadi apa yang dimimpikan, gamblang rasa petualangnya kian mengalir, tidak stastis melainkan penuh dinamika. Ia tidak lagi hidup ala kadarnya, melainkan membuat sebuah perubahan nyata melalui karya. Hal tersebut tampak dari dihentikannya aktivitas perusahaan semen didekat desanya setelah film dokumenternya laris di medsos.
Selain itu, pembaca akan berjumpa pula pada perspektif mengenai cinta yang lebih universal. Adapun sentuhan gagasan kemanusiaan terselip tiap pesan yang disampaikan dalam cacatan juang yang dibaca oleh Suar. Jika dikuras, maka aku sebagai pembaca menyimpulkan buku ini ingin memberi pesan agar kita berupaya untuk memberi arti pada hidup dan berdampak baik kepada sesama. Tidak semata-mata hanya ingin bahagia dengan mengejar kekayaan yang begitu fana melalui tumpukan uang kertas. Cocok banget dengan realitas kehidupan saat ini kan? Hahahaha. Bukankah memupuk peradaban jauh lebih berarti? Meski harus merenggut nyawa? Bukankah ini tanggungjawab seorang yang manusiawi?
Sebagai bahan refleksi sekaligus praktis, susunan cerita dalam naskah ini sangat menghidupkan. Secara diam-diam yang kutangkap, ada anjuran penulis kepada pembaca untuk segera giat untuk menulis. Kenapa? Jikalau rekan-rekan sudah membaca buku ini, bayangkan kalau si Juang tidak menulis? Tentu si Suar akan tetap terjebak dalam sistem yang membelenggu, kehidupan didesanya juga akan tergerus oleh perusahan yang tidak memperdulikan lingkungan. Seketika hanya dengan tulisan, daya ubah tercipta, katakannlah tulisan tersebut telah menumbuhkan spirit dan Suar mematerialkannya menjadi perubahan. Dan itu terjadi ketika sang penulis telah pergi meninggalkan bumi. Keren! Ia tidak lagi hidup tapi gagasannya hidup dibumi!  
So, buku ini sangat bagus dibaca terutama oleh kalangan muda di Indonesia. Apalagi buat yang mau tamat setelah kuliah. Lembar novel ini sangat memberikan sebuat pencerahan untuk menghidupkan hidup. Berdinamika, bukan seperti robot yang mekanistik. Sebagai seorang pembaca, misteri siapa penulis buku catatan terebut tidak hanya mengandung rasa penasaran bagi si Suar melainkan aku juga. Itu point plus bagi buku ini, sehingga merangsang untuk terus menerus membaca. Selain itu kata yang digunakan juga sangat mudah dicerna. Terakhir, endingnya tidak tertebak dan pas, good job buat Fiersa Besari, hahahah.

Share:

SAJAK


Oleh : Wisely

Sajak,, engkaulah wakil suara-suara kepedihan ini
Kala air mata tercucur deras menghujam pertiwi
Beribu-ribu anak dijalanan mencari nasi
Diatas aspal dibawah bangunan-bangunan tinggi

Sajak,, lihatlah dibawah topi jerami
Pak tani tak lagi dapat menuai padi
Sebab diatas tanah ini kini berdiri pabrik-pabrik industri
Kaum buruh kerja dari pagi hingga malam hari
Tenaganya diperas diatas cukong yang menari-nari

Sajak,, penderitaaan ini akan ada didalam dirimu
Sebab penderitaan ini akan membentur tembok kuasa wakil rakyatku
Sebab penderitaan ini akan membawa kabar buruk bagi penguasa negeriku
Sebab penderitaan ini akan menciptakan pemberontakan pada bangsaku
 Dan Aku akan ada selalu bersamamu








Share:

Cinta di Jalan Sunyi


Oleh : Wisely 


Kenapa aku harus berkata-kata
Jika engkau tidak lagi ingin mendengar?
Kenapa aku harus mengungkap rasa
Jika hanya menghasilkan gusar?

Malam mulai larut. Aku bingung, tidak! Aku jatuh cinta padamu. Berselimut cahaya rembulan aku mengadu. Seolah alam semesta hidup mendegar keluhku. Aku mengadu di tengah hamparan bintang-bintang gelapnya malam. Ya, kegelapan seolah cermin dari suasana dalam bilik hati. Hatiku gaduh, riuh karena riak suara oleh rasa menggelora namun tertahan oleh gaya hidup kaum tua.  Bukan karena tidak sanggup untuk mengatakannya padamu, melainkan kata itu akan berjumpa pada jalan terjal penuh kesunyian. Sunyi dari keharmonisan dimana kaki ini berpijak, oleh karena itu riak hati ini kutulis pada kata dalam sajak untukmu, pujaan hati.
Jika engkau mengenal era kegelapan dahulu kala, yang melanda dunia Eropa. Suara kebebasan terperangkap dalam suasana Teokratis yang begitu massif. Tidak ada kondisi yang boleh bertentangan dengan dogma sebuah kepercayaan yang dianut dan terlembaga oleh Negara. Kritik adalah sebuah keniscayaan ketika tidak ingin berujung pada tahanan sel bahkan hukuman mati. Ketakutan-ketakutan terhadap dunia dibalik kubur di tanam berakar dalam psikologis masyarakat sehingga kebebasan terbelenggu kendati isi dalam doktrinasi berasal dari kitab suci. Cara menyampaikan isi yang membelenggu tentu akan mereduksi isi yang ingin membebasakan.
Namun apakah kondisi tersebut tetap berlangsung? Tidak! Secara gamblang saat ini dunia Eropa begitu berdasar pada pandangan mengenai kebebasan. Revolusi-revolusi social yang mewarnai dunia Eropa mengambil andil besar keluar dari kondisi yang penuh suasana etnosentrisme. Dibalik terciptanya kondisi baru tentu ada tokoh-tokoh yang tidak hanya mengikuti sejarah melainkan menjebol sejarah. Mereka yang  mengorbankan nyawa demi sebuah perkembangan peradaban yang lebih baik. Tanpa nyawa yang hilang kondisi baru tidak akan lahir. Begitulah sejarah berlangsung, terus ada pertentangan didalamnya, bahkan hingga saat ini.
Hatiku yang sedang bernafas ingin seperti hembusan kebebasaan di Eropa. Saat ini, hati itu sedang semput, sesak oleh cara hidup orang dahulu. Ya, lebih terang kukatakan, cintaku terpagar oleh budaya, adat istiadat. Aku lahir sebagai manusia yang ditempel oleh budaya Batak. Meski aku tidak pernah memilih sebelum aku lahir. Aku menerimanya begitu saja. Ketika hati belum bergesek dengan aras budaya, aku tidak menganggap budaya sebagai sebuah persoalan. Hingga akhirnya mataku menatap dirinya. Aku bertemu dengan dirinya. Aku mengenal dirinya dan kami merasakan nikmatnya bersama. Kala itulah, budaya ingin kutebus karena kami terpagar oleh marga.
Kisah ini berawal dari perpustakaan. Saat itu aku sedang membaca dan ia tepat berada didepan tempat dudukku. Seketika mata kami saling menatap. Tak cukup sekali, kami mulai mencuri-curi pandang. Aku tersenyum, kualihkan pandangan kepadanya lebih dalam. Ditemani suasana yang hening, ia mengerutkan kening pada buku bacaannya. Sesekali disapunya rambut yang jatuh menutup mata. Tidak! Matanya coklat, alisnya tegas, badannya mungil dan parasnya manis. Jarinya diayunkan tepat di sela antara mata. Ia memperbaiki posisi kacamatanya. Kiranya untuk memperjelas penglihatan. Pasti ia seorang pembaca, pikirku.
Mataku kembali membaca teks yang kupegang. Tidak, pikiranku tak lagi mencoba untuk memahami teks, pikiranku mulai terbang mengambarkan wanita yang tepat berada dihadapanku. lelaki memang gampang jatuh hati, apalagi pada pandangan pertama. Tidak perlu naif, fisik menjadi objek penilaian utama bagi lelaki kebanyakan. Kata-kata ini mulai terngiang. Itu kata yang diucapkan rekanku beberapa hari lalu. Kali ini sepertinya aku harus mengangguk pada pernyataan itu. Hus! Tidak, tidak, ini hanya perasaan sementara. Aku mulai menatapnya kembali. Mata kami bertemu, kali ini tidak sebentar. Ia mulai menatap bukuku dan aku membalas pula demikian.
“Menulis untuk keabadian?” kataku. “Menulis untuk kemanusiaan?” balasnya. Aku tersenyum. Bumi Manusia, judul buku yang sedang dibacanya. Sedang aku membaca buku tentang humanisme. Seketika kami saling berbalas senyum. Itu awal bagiku berbincang dengannya. Namanya Inaranti (segenggam bunga matahari di sore hari) dan aku sendiri Floryn (bunga mekar). Tidak perlu waktu yang lama untuk dekat dan mengenal. Dari perjumpaan pertama kami mulai saling mengisi hari-hari bersama. Sadar memiliki persamaan, bertukar pikiran menjadi sebuah keniscayaan. Tidak hanya bertukar pikir, melainkan untuk saling berbalas rasa dalam status hubungan pula sebuah keniscahyaan. Aku satu marga dengannya. Ya, secara adat istiadat, kami tidak dianjurkan untuk saling memiliki rasa suka layaknya seorang yang sedang dimabuk asmara. Menjadi saudara dengan hubungan antara abang dan adik lebih tepat. Tidak! hatiku berontak untuk itu.
Hitungan detik, menit, dan jam berlalu. Hari-hari berlalu hingga tahun. Sederet kisah telah terlontar, proses untuk saling mengenal berjalan penuh kemesraan. Sembari giat membaca dan berdiskusi, cinta bertabur dari tiap gerak tubuh ketika aku dan dirinya saling bertemu. Hati telah saling berbalas, pikir telah saling bertukar, mata bertemu, bibir mengucap kata, bahkan saat-saat anggota tubuh kami saling bersentuh satu sama lain, memberi arti berbeda ketika itu oleh orang yang berbeda. Kami bercinta dari tiap gerak tersebut. Ya, itu oleh karena cinta. Cinta sumber dari tiap gerak itu. Cinta, hmp, apa itu cinta? Tiba-tiba kepalaku mulai pusing.
Tiba-tiba pertanyaan itu terus menyerbu pikiranku. Aku mulai mencari referensi. Ada banyak penyair, aktivis, bahkan filsuf yang berbicara tentang cinta. Tidak, tidak! aku tidak ingin terjebak dengan pikir orang lain terlebih dahulu, kendati para pemikir terdahulu telah menyusun logikanya sendiri. Sapere aude! beranilah memakai akal budimu sendiri, sebuah moto masa pencerahan. Pesan singkat tanda kedewasaan abad yang lalu. Aku ingat akan pesan ini. Baiklah, akan aku susun melalui kata-kataku sendiri. Tapi, dari mana aku harus memulainya? Sial, pikiranku lagi-lagi berputar. Aku butuh udara segar.  
Aku mulai berjalan-jalan mencari inspirasi. Sesekali kejadian yang tertangkap oleh mata aku renungi betul-betul. Berharap bumi memberi pesan atas pertanyaanku. Aku mulai berpikir acak, aku berdialog dengan pikirku. Mulutku tiba-tiba berucap komat-kamit, seperti dukun yang mengucap mantra. Orang lain tentu akan berpikir aku sedang berbicara sendiri layaknya orang gila. Ya, terkadang orang gila yang dapat menembus sejarah, pikirku. Aku mulai merenung atas realita yang kutangkap sambil berjalan.
Mataku liar menatap sekeliling. Ada seorang ibu yang mengucap cinta pada anaknya. Ada sepasang kekasih pula yang juga mengucap cinta. Seorang sahabat yang berucap cinta satu sama lain. Hmp, untuk saat ini itu yang terungkap. Aku sejenak mulai berpikir, apa hal yang paling menonjol dari hal tersebut. Baiklah, hal terpenting, cinta bukan sesuatu yang dapat kutangkap berupa wujud. Bukan sebuah materi ataupun benda mati. lantas, tidak ada penilaian mutlak atas itu. Berarti, setiap orang berhak memberi arti pada cinta. Aku balik merenung. Huh, merepotkan.
Eksistensi mendahului esensi, aku teringat kata-kata seorang filsuf eksistensial. Tiba-tiba saja aku terpikir. Ia menguraikan bahwa tidak ada sebuah esensi yang utuh ketika hal tersebut masih bergerak atau berubah. Hakikat yang terdapat dalam manusia hanya dapat dinilai ketika seseorang tersebut telah mati, dengan begitulah penilaian (mutlak) baru dapat dilakukan. Alhasil, hakikat dari manusia tersebut baru dapat dirumuskan.
Sepertinya faham itu dapat digunakan untuk menjelaskan hakikat cinta. Ketika seseorang mengucapkan cinta, tentu berasal dari pengalaman pribadi bercampur pengetahuan seseorang tersebut. Itu masih dalam wilayah eksistensial, sebuah proses menghadirkan. Namun hakikat cinta dilihat dari perilaku yang tergores dalam lembar-lembar keberadaan. Disaat lembar keberadaan tidak lagi dapat ditulis, hakikat cinta terumuskan. Itu artinya definisi cinta yang sedang aku pikirkan hanyalah sementara, tidak absolut. Huh, letih rasanya, aku pulang.
Tahu bahwa memiliki rasa yang sama dan sadar terbentur oleh adat istiadat, mengalihkan pikiranku kepada dirinya. Beberapa hari lagi dirinya akan berangkat ke Jawa sedang aku di Sumatera. Ia akan segera bekerja disalah satu media massa ternama di Indonesia. Harus ku akui dirinya seorang yang cerdas, cekatan, dan penuh kreatifitas. Tipe seorang petarung. Aku sangat cinta padanya. Disela-sela malam, hujan turun dari awan yang pekat. Petir berteriak sesekali, berselimut kilat yang memberi terang pada hitamnya langit. Kurebahkan badanku, kutatap langit-langit. “akh! Kenapa harus bertengkar!” lirihku kesal. Rasa gelisah mulai mencemar pada malam yang hening.
Sudah beberapa hari ini kami tidak bertemu, bahkan memberi kabar. Perselisihan ini berawal ketika rasa khawatir mulai bertiup. Terpaan berontak semakin kencang oleh jarak yang terbentang akan hari-hari kedepan. Ruang yang diberi sang khalik akan semakin sempit untuk berjumpa, dan waktu terurai tanpa sentuhan antara aku dan dirinya. Rasa was-was itu semakin bertumpuk atas ketidakinginan menjebol tatanan hidup silam. Bercampur ketidakberdayaaan, dalam situasi itu dirinya berupaya mengakhiri. Ya, dirinya mengutarakannya padaku. Seketika hatiku semakin semput, apakah aku takut? Ya aku takut! Aku belum siap kehilangan dirinya. Melepas apa yang sudah mengisi hari-hari adalah sesuatu yang tidak patut untuk dilupakan, melainkan dikenang. Kenangan akan jadi muara kesedihan. Huh, besok akan menjadi perjumpaan terakhir kami sebelum dirinya pergi. Aku harus siap!  
Hamparan bunga terbentang, mentari mulai memberi tanda ingin terbenam. Angin sepoi berhembus, kami duduk menghadap danau berterang cahaya senja. Tampak raut wajah penuh kebimbangan. Terasa suasana begitu kaku. Aku gelisah, kulirik matanya. Ia seperti mengenang sambil menatap alun-alun danau bertemankan kicauan burung menari-nari lepas di horizon.
“Aku akan pergi minggu depan” ucapnya.
“Ya, aku tahu” jawabku cepat.
“Sangat berat untuk mengatakannya padamu, bagaimana jika rasa terlepas dari sebuah kepemilikan, dari keterikatan, dari pertemuan, dari tangan yang tak lagi saling menggenggam dan terbelenggu oleh tatanan hidup silam?” tanyanya menyerbu. Seketika aku diam, aku tak berhenti menatapnya. Raut wajahnya mendung.
“Ya, aku mengerti”
“Mengerti bukan berarti menerima, bukan jawaban, tidak mengambarkan sedikitpun kehendak!” suaranya geram.
“Kenapa aku harus memberi jawaban jika tak merubah keputusan? Bukankah mengerti lebih baik ketika kehendak dua insan tidak akan bersatu? Ya, aku mengerti kau tidak dapat untuk meneruskan hubungan ini. Atas ketidaksanggupanmu! Kenapa alih pikir puluhan tahun lalu mampu menyetir tentang rasa yang saling berbalas hari ini? Kenapa? Lantas dirimu mengucap bahwa cinta tidak mesti memiliki? Bulshit! Didalam cinta ada rasa yang saling berbalas. Adakah sepasang insan yang mengucap cinta, namun mengucap cinta pada yang lain pula? Bermesra pada yang lain pula? Apakah cinta mengandung syarat? Siapa yang bentuk syarat tersebut? Apakah cinta terbelenggu oleh syarat yang bahkan tidak lahir dari alam pikirmu? Keinginanmu? Apakah kau hidup oleh orang lain? Kau bahkan tidak punya duniamu!”
“Ya, aku bahkan tidak memiliki dunia, karena dunia tidak hanya milikku! Aku menghargai leluhur, aku menghargai orang sekelilingku yang juga menyayangiku. Atas dasar itu aku memutuskan hubungan kita. Bukan karena tidak berbalas rasa! Aku sangat mencintamu! Ingat itu!” tidak lagi dapat terbendung, tanpa isak, tetesan air mata berlinang. Tidak hanya dirinya melainkan aku juga. Ia berdiri dan pergi.
Aku menangis. Perih hati tidak dapat kutahan. Kenapa? Kenapa ini terjadi? Tanya menjadi liar dikepalaku. Terus berbunyi-bunyi. Sembari isak tangisku terus menderas membasahi pipi. Sepi, sepi, rasa ini akan menyepi. Senjaku mulai hilang, bulan mulai datang. Ku rebahkan badanku. “Inikah cinta?” sesalku. “Melahirkan tangis, kesal, kepedihan?” seketika aku membeci dirinya. “Cintaku terbelenggu! Tidak ada kebebasan! Tidak! aku tidak mampu untuk membebaskan cintaku, karena cinta bukanlah kepemilikanku. Ya, bukan kepemilikanku. Tapi aku dan dirinya. Cinta yang kuinginkan ini butuh kesepakatan. Mengandung relasi antara aku dengan dirinya. Ada keharmonisan. Ada keselarasan. Ada persamaan dibalik perbedaan” mataku mulai menutup. Lirih meletih suara. Aku lelah. Tubuhku terlelap oleh rasa berselimut kesedihan.
Inaranti telah pergi sebulan lamanya. Aku masih tetap memikirkannya. Cintaku telah sunyi. Tidak lagi ramai oleh tawanya. Tidak lagi hangat oleh pelukannya. Tidak lagi menyimpan amarah, bahagia, suka, dan duka. Hari-hariku hampa. Tanganku mulai menulis. Aku tidak tahu lagi bagaimana ingin mengungkap rasa ini. Didalam kertas putih ini ku gores kata mencermin isi hatiku. Ya, kebebasan dari rasaku hanya ada pada tinta pena yang membentuk huruf menjadi kata berbaris-baris menjadi puisi. Ia hidup dalam dunia yang imaginer. Diluar dari pada itu, ia telah mati. Akan segera ku sampainya padanya bahwa dirinya akan segera kulupakan.

Untuk waktu yang terus berputar..
Sampaikan pada detik, menit, dan jam..
Bahwa dia dan aku saling bersandar..
Kendati jarak menguji rasa sabar..
Untuk terus bertahan dengan menunggu-nunggu kabar..

Maka pagi, cerahlah layak matahari ..
Namun panas jangan engkau beri..
Karena curiga menghantui hati..
Hingga kata-kata menjadi tidak berarti..

Dan pada ruang yang terus lapang..
Sampaikan pada kehampaan..
Untuk segera pergi dan hilang..
Agar yang berada ialah kebahagiaan..

Salam padamu ke-tiada-an..

_Tamat_

Share:

Mengaktifkan Kesadaran Kritis


Oleh : Wisely

Beberapa hari lalu, ada diskusi di sebuah tempat ngopinya kalangan anak muda kota Medan. Mencicipi kopi yang berasal dari desa membuat lidah terasa pahit tapi nikmat di ujung-ujung, layaknya ucap-ucap familiar dalam sinetron, benci dalam cinta. Sembari minum, interaksi sosial terjadi secara kondusif, apalagi dari kalangan mahasiswa. Ntah itu sifatnya formal ataupun non formal. Tidak jarang pula interaksi sosial diisi oleh diskusi-diskusi ringan tentang persoalan sekitar. Potret kehidupan inilah sepertinya kian menjamur di kota metropolitan ini, tentu bukan tanpa sebab. Tapi hal ini juga dibarengi dari gerakan kopi Barista yang mulai menunjukan eksistensinya.
Kembali ke-awal, proses bertukar pikiran saat itu dibawakan oleh salah seorang mahasiswa Unimed dengan topik bedah buku Pendidikan Kaum Tertindas. Buku ini disinyalir banyak dibahas dalam forum-forum diskusi para aktivis gerakan sosial. Secara literatur dapat pula ditelisik jejak buku ini dari tulisan Mansyur Fakih yang berjudul, Sesat Pikir Globalisasi. Sebagai pembuka, pemateri menuturkan akan salah satu persoalan penting dalam dunia pendidikan. Salah satunya ialah sistem gaya “Bank” yang menjadi salah satu kritik Freire terhadap pendidikan saat itu. Dari sistem ini pula akhirnya akan menciptakan budaya diam dalam ruang kelas. Terakhir kelas menjadi tidak dialogis dan kaum terdidik akan cenderung tenggelam ditakhlukkan oleh pendidik. Lantas apa keterkaitan ini dengan kehidupan mahasiswa saat ini?  
Mendarat kekampus, pola kehidupan mahasiswa kian terjerumus dalam cara berpikir yang pragmatis bahkan opportunis. Secara sederhana dapat ditelisik dari adanya pendangan yang mengungkapkan kampus hanya sebagai batu pijakan untuk mendapatkan kerja mapan dengan gaji yang besar. Alhasil tindaknya, copas dalam mengerjakan tugas, menyontek saat ujian, apatis terhadap keadaan sosial, minim berorganisasi dan lain-lain. Bukan hal yang rahasia pula tipe mahasiswa ini sering dilihat sebagai mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang). Tentu yang dikejar tidak lain ialah mendapatkan Indeks Prestasi yang tinggi agar mudah melamar kerja.
Jika dilihat dari pola hidup diluar kampus, maka sangat mudah mendeteksi bahwa kegiatan mahasiswa dominan diisi oleh kegiatan hiburan seperti menonton bioskop, travelling, shopping, main game online, hingga menikmati film Korea di kos-kosan yang berlapis-lapis episode. Tidak jarang juga sampai menghabiskan waktu lebih dari setengah hari untuk menikmati drama tersebut. Inilah pengaruh yang dibawa dari dunia teknologi dalam sendi-sendi kehidupan mahasiswa secara umum. Ada yang memanfaatkan teknologi tersebut, adapula yang hanyut didalamnya. Tentu yang terakhir tersebut menyimpan daya bahaya laten bagi aktivitas akademik.
Disamping itu juga, ada kecenderungan lebih mengaktifkan diri pada dunia “maya” yang mengakibatkan lahirnya aktivis-aktivis intelektual medsos yang mengungkapkan kritik, komentar, saran, hingga pengunggkapan rasa untuk merespon isu-isu aktual yang sedang ramai dibicarakan oleh publik. Maka tidak jarang, sering muncul satire dengan ucapan pengamat medsos. Keberlangsungan hal tersebut, tanpa dibarengi mengaktifkan diri pada dunia nyata akan menciptakan sebuah ketidakseimbangan antara ucapan dan tindakan.
Hadir dalam dunia imaginer yang menyelimuti kehidupan mahasiswa mirip dengan era kegelapan dahulu di Eropa. Dimana ada dominan umat yang terlalu asik di dunia “sana” dibanding dunia sini. Mendominankan diri pada hubungan vertikal sehingga lupa merawat hubungan horizontal. Hal ini pula yang menjadi titik kritik Karl Marx terhadap agama sehingga mengucapkan agama sabagai candu, terlebih karena kondisi sosial saat itu kian timpang atau berada dalam praktik dehumanisasi. Dan saat bersamaan kaum agamawan cenderung bersikap pasif memandang persoalan. Untuk keluar dari kepasifan tersebut maka terbit salah satu gagasan baru dari Amerika Latin yakni teologi pembebasan. Pemahaman ini pula memberikan warna keseimbangan antara hubungan horizontal dengan hubungan vertikal. Alhasil, aksi sosial diwujudkan menjadi tindakan aktif dari proses keberimanan (praksis).
Tentu dunia “sana” yang dimaksud pada zaman kegelapan tidak sama dengan dunia “sana” dalam kehidupan mahasiswa saat ini. Pertama lebih mengarah pada spiritualitas dan kedua lebih kepada dunia maya dari teknologi. Namun kedua hal tersebut memiliki kesamaan yakni tidak berada dalam dunia nyata. Oleh karena itu dari gagasana Freire dapat berfungsi untuk mengeluarkan seorang intelektual tersebut dari kealpaan dengan mengaktifkan nalar kritis sebagai kunci. Maka pintu untuk memandang dunia jauh lebih konkret, bahwa sedang tidak baik-baik saja. Ada penggusuran, kelaparan, ketidakberdayaan, dan masih banyak lagi tindak ketidak-manusiawian menjalar dalam kehidupan masyarakat. Dalam situasi inilah perlu daya tranformasi sebagai wujud nyata dari daya kritis untuk mengubah dunia.
Namun melihat pola kehidupan yang demikian pula mendukung hingga melanggengkan sistem gaya Bank. Jika artikulasikan, sistem gaya bank ini ialah proses belajar mengajar dimana peran pendidik sebagai orang yang maha tahu dan kaum terdidik sebagai orang tidak tahu apa-apa. Sehingga guru layaknya menabung ilmu ke kepala murid (bank) dan murid hanya dijadikan objek penerima pasif oleh guru. Maka tidak heran ada proses mengajar yang hanya memindahkan baca (mungkin lewat dikte guru) dari buku ke cacatan mahasiswa oleh dosen. Setelah itu disuruh untuk menghapal, lalu memuntahkannya pada soal-soal ujian. Proses ini terus berlangsung berulang-ulang seperti lingkaran setan. Selain itu pendidik tenden pula tidak senang dikritik karena tidak ingin dianggap keliru demi status quo sebagai orang yang paling tahu. Ruang yang antidialogis pun terjadi. Alhasil Budaya tunduk dan diam timbul dipermukaan.  
Dari suasana itu, tidaklah mengherankan jika ruang kelas menjadi tidak asik atau membosankan. Misalnya saja ketika dosen tidak hadir sampai beberapa kali pertemuan, respon  bahagia pasti akan ditunjukkan. Padahal uang kuliah menaik tiap tahunnya. Disisi lain mahasiswa menjadi apatis pula ketika terjadi pungutan liar, tidak tranparannya keuangan, ruang kelas yang 1: 45 keatas, hingga sarana yang tidak memadai terjadi di kampus. Slogan agen of change ataupun control of sosial akhirnya menjadi tidak populer di tindakan mahasiswa. Padahal sejarah telah mencatat mahasiswa berkontribusi besar dalam proses perubahan sosial, terutama saat tumbangnya rezim orde baru. Bukan berarti kondisi rezim saat ini sedang baik-baik saja. Tapi kemunginan besar ada proses hegemoni yang coba membisukan dengan mematikan daya kritis.
         Dalam kondisi inilah Freire menawarkan paradigma kritis dalam memandang suatu persoalan. Yakni mampu menelisik soal bukan sesuatu yang datang begitu saja dari “atas” sehingga diterima bergitu saja melainkan ada sebuah konflik struktural yang dimainkan oleh segelintir orang. Sehingga diperlukan sebuah perlawanan untuk mewujudkan tranformasi sosial kearah yang lebih baik. Dalam hal ini, Freire membagi menjadi tiga kesadaran, yakni pertama kesadaran magis yang mengganggap persoalan sebagai sebuah takdir. Kedua, kesadaran naif yang sudah mengetahui persoalan namun tindak menaruh tindakan untuk mengubah. Ketiga, kesadaran kritis yang mengindentifikasi, analisis, dan tranformasi sebuah keadaan. Kiranya kita dapat mengaktifkan kesadaran kritis dimulai dari langkah kecil, salah satunya seperti yang telah dilakukan oleh kedai kopi yakni, menciptakan ruang diskusi sebagai proses bertukar pikiran mengenai persoalan sosial. Salam...
Share:

Postingan Populer

Labels

Postingan Terbaru