Oleh : Wisely
Kenapa aku harus berkata-kata
Jika engkau tidak lagi ingin mendengar?
Kenapa aku harus mengungkap rasa
Jika hanya menghasilkan gusar?
Malam
mulai larut. Aku bingung, tidak! Aku jatuh cinta padamu. Berselimut cahaya
rembulan aku mengadu. Seolah alam semesta hidup mendegar keluhku. Aku mengadu
di tengah hamparan bintang-bintang gelapnya malam. Ya, kegelapan seolah cermin dari
suasana dalam bilik hati. Hatiku gaduh, riuh karena riak suara oleh rasa
menggelora namun tertahan oleh gaya hidup kaum tua. Bukan karena tidak sanggup untuk mengatakannya
padamu, melainkan kata itu akan berjumpa pada jalan terjal penuh kesunyian.
Sunyi dari keharmonisan dimana kaki ini berpijak, oleh karena itu riak hati ini
kutulis pada kata dalam sajak untukmu, pujaan hati.
Jika
engkau mengenal era kegelapan dahulu kala, yang melanda dunia Eropa. Suara
kebebasan terperangkap dalam suasana Teokratis yang begitu massif. Tidak ada
kondisi yang boleh bertentangan dengan dogma sebuah kepercayaan yang dianut dan
terlembaga oleh Negara. Kritik adalah sebuah keniscayaan ketika tidak ingin
berujung pada tahanan sel bahkan hukuman mati. Ketakutan-ketakutan terhadap
dunia dibalik kubur di tanam berakar dalam psikologis masyarakat sehingga
kebebasan terbelenggu kendati isi dalam doktrinasi berasal dari kitab suci. Cara
menyampaikan isi yang membelenggu tentu akan mereduksi isi yang ingin
membebasakan.
Namun
apakah kondisi tersebut tetap berlangsung? Tidak! Secara gamblang saat ini
dunia Eropa begitu berdasar pada pandangan mengenai kebebasan.
Revolusi-revolusi social yang mewarnai dunia Eropa mengambil andil besar keluar
dari kondisi yang penuh suasana etnosentrisme. Dibalik terciptanya kondisi baru
tentu ada tokoh-tokoh yang tidak hanya mengikuti sejarah melainkan menjebol
sejarah. Mereka yang mengorbankan nyawa
demi sebuah perkembangan peradaban yang lebih baik. Tanpa nyawa yang hilang
kondisi baru tidak akan lahir. Begitulah sejarah berlangsung, terus ada
pertentangan didalamnya, bahkan hingga saat ini.
Hatiku
yang sedang bernafas ingin seperti hembusan kebebasaan di Eropa. Saat ini, hati
itu sedang semput, sesak oleh cara hidup orang dahulu. Ya, lebih terang
kukatakan, cintaku terpagar oleh budaya, adat istiadat. Aku lahir sebagai
manusia yang ditempel oleh budaya Batak. Meski aku tidak pernah memilih sebelum
aku lahir. Aku menerimanya begitu saja. Ketika hati belum bergesek dengan aras
budaya, aku tidak menganggap budaya sebagai sebuah persoalan. Hingga akhirnya
mataku menatap dirinya. Aku bertemu dengan dirinya. Aku mengenal dirinya dan
kami merasakan nikmatnya bersama. Kala itulah, budaya ingin kutebus karena kami
terpagar oleh marga.
Kisah
ini berawal dari perpustakaan. Saat itu aku sedang membaca dan ia tepat berada
didepan tempat dudukku. Seketika mata kami saling menatap. Tak cukup sekali,
kami mulai mencuri-curi pandang. Aku tersenyum, kualihkan pandangan kepadanya
lebih dalam. Ditemani suasana yang hening, ia mengerutkan kening pada buku
bacaannya. Sesekali disapunya rambut yang jatuh menutup mata. Tidak! Matanya
coklat, alisnya tegas, badannya mungil dan parasnya manis. Jarinya diayunkan
tepat di sela antara mata. Ia memperbaiki posisi kacamatanya. Kiranya untuk
memperjelas penglihatan. Pasti ia seorang pembaca, pikirku.
Mataku
kembali membaca teks yang kupegang. Tidak, pikiranku tak lagi mencoba untuk
memahami teks, pikiranku mulai terbang mengambarkan wanita yang tepat berada
dihadapanku. lelaki memang gampang jatuh hati, apalagi pada pandangan pertama.
Tidak perlu naif, fisik menjadi objek penilaian utama bagi lelaki kebanyakan.
Kata-kata ini mulai terngiang. Itu kata yang diucapkan rekanku beberapa hari
lalu. Kali ini sepertinya aku harus mengangguk pada pernyataan itu. Hus! Tidak,
tidak, ini hanya perasaan sementara. Aku mulai menatapnya kembali. Mata kami
bertemu, kali ini tidak sebentar. Ia mulai menatap bukuku dan aku membalas pula
demikian.
“Menulis
untuk keabadian?” kataku. “Menulis untuk kemanusiaan?” balasnya. Aku tersenyum.
Bumi Manusia, judul buku yang sedang dibacanya. Sedang aku membaca buku tentang
humanisme. Seketika kami saling berbalas senyum. Itu awal bagiku berbincang
dengannya. Namanya Inaranti (segenggam bunga matahari di sore hari) dan aku
sendiri Floryn (bunga mekar). Tidak perlu waktu yang lama untuk dekat dan
mengenal. Dari perjumpaan pertama kami mulai saling mengisi hari-hari bersama.
Sadar memiliki persamaan, bertukar pikiran menjadi sebuah keniscayaan. Tidak
hanya bertukar pikir, melainkan untuk saling berbalas rasa dalam status
hubungan pula sebuah keniscahyaan. Aku satu marga dengannya. Ya, secara adat
istiadat, kami tidak dianjurkan untuk saling memiliki rasa suka layaknya
seorang yang sedang dimabuk asmara. Menjadi saudara dengan hubungan antara
abang dan adik lebih tepat. Tidak! hatiku berontak untuk itu.
Hitungan
detik, menit, dan jam berlalu. Hari-hari berlalu hingga tahun. Sederet kisah
telah terlontar, proses untuk saling mengenal berjalan penuh kemesraan. Sembari
giat membaca dan berdiskusi, cinta bertabur dari tiap gerak tubuh ketika aku
dan dirinya saling bertemu. Hati telah saling berbalas, pikir telah saling
bertukar, mata bertemu, bibir mengucap kata, bahkan saat-saat anggota tubuh
kami saling bersentuh satu sama lain, memberi arti berbeda ketika itu oleh orang
yang berbeda. Kami bercinta dari tiap gerak tersebut. Ya, itu oleh karena
cinta. Cinta sumber dari tiap gerak itu. Cinta, hmp, apa itu cinta? Tiba-tiba kepalaku
mulai pusing.
Tiba-tiba pertanyaan itu terus menyerbu pikiranku.
Aku mulai mencari referensi. Ada banyak penyair, aktivis, bahkan filsuf yang berbicara
tentang cinta. Tidak, tidak! aku tidak ingin terjebak dengan pikir orang lain
terlebih dahulu, kendati para pemikir terdahulu telah menyusun logikanya
sendiri. Sapere aude! beranilah memakai
akal budimu sendiri, sebuah moto masa pencerahan. Pesan singkat tanda
kedewasaan abad yang lalu. Aku ingat akan pesan ini. Baiklah, akan aku susun
melalui kata-kataku sendiri. Tapi, dari mana aku harus memulainya? Sial,
pikiranku lagi-lagi berputar. Aku butuh udara segar.
Aku mulai berjalan-jalan mencari inspirasi. Sesekali
kejadian yang tertangkap oleh mata aku renungi betul-betul. Berharap bumi
memberi pesan atas pertanyaanku. Aku mulai berpikir acak, aku berdialog dengan
pikirku. Mulutku tiba-tiba berucap komat-kamit, seperti dukun yang mengucap
mantra. Orang lain tentu akan berpikir aku sedang berbicara sendiri layaknya
orang gila. Ya, terkadang orang gila yang dapat menembus sejarah, pikirku. Aku
mulai merenung atas realita yang kutangkap sambil berjalan.
Mataku liar menatap sekeliling. Ada seorang ibu yang
mengucap cinta pada anaknya. Ada sepasang kekasih pula yang juga mengucap
cinta. Seorang sahabat yang berucap cinta satu sama lain. Hmp, untuk saat ini
itu yang terungkap. Aku sejenak mulai berpikir, apa hal yang paling menonjol
dari hal tersebut. Baiklah, hal terpenting, cinta bukan sesuatu yang dapat
kutangkap berupa wujud. Bukan sebuah materi ataupun benda mati. lantas, tidak
ada penilaian mutlak atas itu. Berarti, setiap orang berhak memberi arti pada
cinta. Aku balik merenung. Huh, merepotkan.
Eksistensi
mendahului esensi, aku teringat kata-kata seorang filsuf
eksistensial. Tiba-tiba saja aku terpikir. Ia menguraikan bahwa tidak ada
sebuah esensi yang utuh ketika hal tersebut masih bergerak atau berubah.
Hakikat yang terdapat dalam manusia hanya dapat dinilai ketika seseorang
tersebut telah mati, dengan begitulah penilaian (mutlak) baru dapat dilakukan.
Alhasil, hakikat dari manusia tersebut baru dapat dirumuskan.
Sepertinya faham itu dapat digunakan untuk
menjelaskan hakikat cinta. Ketika seseorang mengucapkan cinta, tentu berasal
dari pengalaman pribadi bercampur pengetahuan seseorang tersebut. Itu masih
dalam wilayah eksistensial, sebuah proses menghadirkan. Namun hakikat cinta
dilihat dari perilaku yang tergores dalam lembar-lembar keberadaan. Disaat lembar
keberadaan tidak lagi dapat ditulis, hakikat cinta terumuskan. Itu artinya
definisi cinta yang sedang aku pikirkan hanyalah sementara, tidak absolut. Huh,
letih rasanya, aku pulang.
Tahu bahwa memiliki rasa yang sama dan sadar terbentur
oleh adat istiadat, mengalihkan pikiranku kepada dirinya. Beberapa hari lagi
dirinya akan berangkat ke Jawa sedang aku di Sumatera. Ia akan segera bekerja
disalah satu media massa ternama di Indonesia. Harus ku akui dirinya seorang
yang cerdas, cekatan, dan penuh kreatifitas. Tipe seorang petarung. Aku sangat
cinta padanya. Disela-sela malam, hujan turun dari awan yang pekat. Petir
berteriak sesekali, berselimut kilat yang memberi terang pada hitamnya langit.
Kurebahkan badanku, kutatap langit-langit. “akh! Kenapa harus bertengkar!”
lirihku kesal. Rasa gelisah mulai mencemar pada malam yang hening.
Sudah beberapa hari ini kami tidak bertemu, bahkan
memberi kabar. Perselisihan ini berawal ketika rasa khawatir mulai bertiup. Terpaan
berontak semakin kencang oleh jarak yang terbentang akan hari-hari kedepan.
Ruang yang diberi sang khalik akan semakin sempit untuk berjumpa, dan waktu
terurai tanpa sentuhan antara aku dan dirinya. Rasa was-was itu semakin
bertumpuk atas ketidakinginan menjebol tatanan hidup silam. Bercampur ketidakberdayaaan,
dalam situasi itu dirinya berupaya mengakhiri. Ya, dirinya mengutarakannya
padaku. Seketika hatiku semakin semput, apakah aku takut? Ya aku takut! Aku
belum siap kehilangan dirinya. Melepas apa yang sudah mengisi hari-hari adalah
sesuatu yang tidak patut untuk dilupakan, melainkan dikenang. Kenangan akan
jadi muara kesedihan. Huh, besok akan menjadi perjumpaan terakhir kami sebelum
dirinya pergi. Aku harus siap!
Hamparan bunga terbentang, mentari mulai memberi
tanda ingin terbenam. Angin sepoi berhembus, kami duduk menghadap danau
berterang cahaya senja. Tampak raut wajah penuh kebimbangan. Terasa suasana
begitu kaku. Aku gelisah, kulirik matanya. Ia seperti mengenang sambil menatap
alun-alun danau bertemankan kicauan burung menari-nari lepas di horizon.
“Aku akan pergi minggu depan” ucapnya.
“Ya, aku tahu” jawabku cepat.
“Sangat berat untuk mengatakannya padamu, bagaimana
jika rasa terlepas dari sebuah kepemilikan, dari keterikatan, dari pertemuan,
dari tangan yang tak lagi saling menggenggam dan terbelenggu oleh tatanan hidup
silam?” tanyanya menyerbu. Seketika aku diam, aku tak berhenti menatapnya. Raut
wajahnya mendung.
“Ya, aku mengerti”
“Mengerti bukan berarti menerima, bukan jawaban,
tidak mengambarkan sedikitpun kehendak!” suaranya geram.
“Kenapa aku harus memberi jawaban jika tak merubah
keputusan? Bukankah mengerti lebih baik ketika kehendak dua insan tidak akan bersatu?
Ya, aku mengerti kau tidak dapat untuk meneruskan hubungan ini. Atas ketidaksanggupanmu!
Kenapa alih pikir puluhan tahun lalu mampu menyetir tentang rasa yang saling
berbalas hari ini? Kenapa? Lantas dirimu mengucap bahwa cinta tidak mesti
memiliki? Bulshit! Didalam cinta ada rasa yang saling berbalas. Adakah sepasang
insan yang mengucap cinta, namun mengucap cinta pada yang lain pula? Bermesra
pada yang lain pula? Apakah cinta mengandung syarat? Siapa yang bentuk syarat
tersebut? Apakah cinta terbelenggu oleh syarat yang bahkan tidak lahir dari
alam pikirmu? Keinginanmu? Apakah kau hidup oleh orang lain? Kau bahkan tidak
punya duniamu!”
“Ya, aku bahkan tidak memiliki dunia, karena dunia
tidak hanya milikku! Aku menghargai leluhur, aku menghargai orang sekelilingku
yang juga menyayangiku. Atas dasar itu aku memutuskan hubungan kita. Bukan
karena tidak berbalas rasa! Aku sangat mencintamu! Ingat itu!” tidak lagi dapat
terbendung, tanpa isak, tetesan air mata berlinang. Tidak hanya dirinya
melainkan aku juga. Ia berdiri dan pergi.
Aku menangis. Perih hati tidak dapat kutahan.
Kenapa? Kenapa ini terjadi? Tanya menjadi liar dikepalaku. Terus
berbunyi-bunyi. Sembari isak tangisku terus menderas membasahi pipi. Sepi,
sepi, rasa ini akan menyepi. Senjaku mulai hilang, bulan mulai datang. Ku rebahkan
badanku. “Inikah cinta?” sesalku. “Melahirkan tangis, kesal, kepedihan?”
seketika aku membeci dirinya. “Cintaku terbelenggu! Tidak ada kebebasan! Tidak!
aku tidak mampu untuk membebaskan cintaku, karena cinta bukanlah kepemilikanku.
Ya, bukan kepemilikanku. Tapi aku dan dirinya. Cinta yang kuinginkan ini butuh
kesepakatan. Mengandung relasi antara aku dengan dirinya. Ada keharmonisan. Ada
keselarasan. Ada persamaan dibalik perbedaan” mataku mulai menutup. Lirih
meletih suara. Aku lelah. Tubuhku terlelap oleh rasa berselimut kesedihan.
Inaranti telah pergi sebulan lamanya. Aku masih
tetap memikirkannya. Cintaku telah sunyi. Tidak lagi ramai oleh tawanya. Tidak lagi
hangat oleh pelukannya. Tidak lagi menyimpan amarah, bahagia, suka, dan duka.
Hari-hariku hampa. Tanganku mulai menulis. Aku tidak tahu lagi bagaimana ingin
mengungkap rasa ini. Didalam kertas putih ini ku gores kata mencermin isi
hatiku. Ya, kebebasan dari rasaku hanya ada pada tinta pena yang membentuk
huruf menjadi kata berbaris-baris menjadi puisi. Ia hidup dalam dunia yang
imaginer. Diluar dari pada itu, ia telah mati. Akan segera ku sampainya padanya
bahwa dirinya akan segera kulupakan.
Untuk
waktu yang terus berputar..
Sampaikan
pada detik, menit, dan jam..
Bahwa
dia dan aku saling bersandar..
Kendati
jarak menguji rasa sabar..
Untuk
terus bertahan dengan menunggu-nunggu kabar..
Maka
pagi, cerahlah layak matahari ..
Namun
panas jangan engkau beri..
Karena
curiga menghantui hati..
Hingga
kata-kata menjadi tidak berarti..
Dan
pada ruang yang terus lapang..
Sampaikan
pada kehampaan..
Untuk
segera pergi dan hilang..
Agar
yang berada ialah kebahagiaan..
Salam
padamu ke-tiada-an..
_Tamat_








No comments:
Post a Comment