Jika kamu seorang mahasiswa, pastinya akan melewati
yang dinamakan menulis skripsi. Dimasa-masa inilah banyak mahasiswa akan mengalami
kegalauan. Galau karena menunggu dosen pembimbinglah, ditanyain kapan tamat,
bahkan sampai dikata-katain mahasiswa abadi yang suka mengabdi terhadap kampus.
Banyak mahasiswa yang merasa menyusun skripsi seperti sebuah perjuangan yang
sangat berat, yah beti (beda tipis) sama memperjuangkan gebetan.
Cepat atau lambatnya penyelesaian skripsi disebabkan
oleh beberapa hal salah satunya adalah menunggu waktu bimbingan dari dosen
pembimbing yang akan senantiasa membimbing. Tapi perlu dicatatat, meskipun
seorang dosen pembimbing adakalanya dia salah, jadi tidak selalu yang dikatakan
harus diikuti. Sebab dosen pembimbing adalah manusia yang tidak luput dari
kesalahan. Sepakat kawan-kawan, udah sepakat aja dosen pembimbing masih makan
nasi juga toh sama seperti kamu. Hehehe..
Berbagai jenis-jenis dosen pembimbing akan kamu
jumpai. Ada dosen yang pengertian sama mahasiswa dengan menyediakan waktu
bimbingan, tapi ada yang membuat janji ketemu saja sangat susah karena
jadwalnya yang padat, juga ada yang jawabannya tidak pasti yakni ‘lihat besok’
dan masih banyak jenis lainnya.
Disaat melakukan penulisan skripsi, saya menemukan dosen
pembimbing yang memiliki watak yang tidak pasti dan selalu memberi jawaban
“lihat besok”. Hello, besok itu kan panjang bro, gak ada habis-habisnya.
Pembimbingnya adalah dosen paling nyebelin, bagaimana tidak nyebelin satu
minggu ditungguin supaya jumpa bimbingan. Bahkan pada hari ke tujuh sudah
nunggu tujuh jam tau-taunya hanya disuruh meletakkan skripsi dimejanya. Lantas
bilang paling lambat dua minggu baru bisa bimbingan. Terus setelah dijumpai dua
minggu kemudian, dengan pogahnya menjawab “saya lagi sibuk, skripsinya belum
diperiksa besok saja saya jumpai”. Plakk, pengen ditampar, dimaki, kalo gak
diceburin kekali, eehh sadar lagi, sabar yah nak…!
Tapi lucunya jawaban ini hanya berlaku bagi sebagian
orang. Tidak semua mendapat perlakuan yang seperti itu. Berbeda sama mahluk
yang satu lagi yakni kaum hawa. Bagi kaum hawa, bimbingan pada dosen ini cukup
menyenangkan. Sebab tidak usah menunggu lama kaum hawa dilayani dengan baik,
bahkan akan meluangkan waktu sebanyak-banyaknya. Meskipun ada sebagian kaum
adam yang dilayani dengan baik, tapi mereka adalah anak buahnya (mahasiswa yang
sering bantu-bantu di kantor jurusan).
Bagi mahasiswa yang lagi bimbingan seperti saya,
menunggu sudah menjadi hal yang biasa. Jadi, apabila ada pepatah menyatakan
bahwa menunggu adalah kerjaan yang sangat membosankan, maka kupikir itu tak
berlaku bagi mahasiswa tingkat akhir. Sebab, sudah sering menunggu
ketidakpastian. So, menunggu itu itu bagi mahasiswa yang lagi bimbingan adalah
berkah. Setidaknya dapat merasakan bahwa dia masih hidup, karena akan merasa
kesal, marah, senang dan lain sebagainya.
Kamu yang lagi nyusun tugas akhir dan dalam proses
bimbingan, pasti sering menunggu. Menunggu inilah, itulah dan tidak ada
kejelasan. Hal ini juga sedang aku rasakan, ditengah tuntutan dari kampung
untuk segera menuntaskan kuliah. Maklum hampir sudah dikatakan mahasiswa abadi,
yah karena lama tamatnya. Jadi tuntutan dari mana-mana menyerang bagai bak
kenangan. Ehk kenangan, sama siapanya. Kok jadi melebar gini yah..!
Ohk kembali lagi kata menunggu. Bagi saya dalam
proses penyelesaian tugas akhir, sering mengalami kejadian menunggu didalam
ketidakpastiaan. Bagaimana tidak, dosen pembimbingnya tidak punya jadwal yang
pasti. Ketika dijumpai dan buat janji jawaban nya juga tidak pasti yakni “lihat
besok”, lantas bimbinganpun gak jadi-jadi. Tidak sekali duakali lagi menunggu
ketidakpastian ini, tapi sudah berkali-kali. Sampai-sampai ada khayalan angkat
kamar kos ke kantor jurusan. Jadi, apabila dosennya datang kita sudah siap
untuk bimbingan. Tapi apa daya semua hanya khayalan. Bimbingan tak jadi-jadi,
terbengkalai karena pembimbing yang takpasti.
Bosan, sangat mungkin bahkan sampai-sampai kepikiran
juga mengerjain dosen pembimbing supaya kekesalan ini terbayar. Tapi kelakuan
itu adalah buruk dan tidak akan menyelesaikan masalah. Sehingga rasa bosan,
kesal dan seluruh kerumunannya harus dikubur dalam-dalam.
Nah, apabila kerumunan itu lebih dominan disaat
menunggu dosen. Ada beberapa trik yang saya lakukan. Biasanya sebelum berangkat
kekampus, saya menyediain botol minum yang diisi dengan kopi yang telah
diseduh. Jadi disaat menunggu saya selalu ditemani oleh kopi hitam yang setia.
Saya juga selalu membawa buku dalam tas, jadi tidak ada alasan tidak melakukan
apa-apa disaat menunggu. Makanya waktu menunggu diisi dengan membaca buku baik
itu novel atau jenis lainnya. Tapi biasanya saya sih bawa buku novel biar ngak
ngantuk.
Nah, ini trik terakhir yang biasanya saya lakukan
apabila kedua trik diatas tidak sanggup melawan kebosanan yakni buka laptop.
Dengan adanya laptop, berbagai kegiatan dapat dilakukan. Misalkan, menulis
kejadian yang dialami saat itu pokoknya apa yang sedang dipikirkan deh. Selain
itu jika pikiran juga mentok, tidak dapat mengeluarkan idea apa-apa. Maka jurus
jitu yang digunakan adalah menonton. Jadi sebelumnya harus banyakin flim
dimemori laptop supaya dapat memilih-milih apa yang disukai. Sehingga jika flim
yang satu tidak bagus, maka boleh memilih flim lainnya. Sekian deh, celoteh dari
mahasiswa tingkat akhir yang lagi menunggu ketidakpastian.!








No comments:
Post a Comment