Media Kreativitas, Untuk Menunjukkan Eksistensi

Rasanya Menunggu Dosen Pembimbing Yang Tak Pasti


Jika kamu seorang mahasiswa, pastinya akan melewati yang dinamakan menulis skripsi. Dimasa-masa inilah banyak mahasiswa akan mengalami kegalauan. Galau karena menunggu dosen pembimbinglah, ditanyain kapan tamat, bahkan sampai dikata-katain mahasiswa abadi yang suka mengabdi terhadap kampus. Banyak mahasiswa yang merasa menyusun skripsi seperti sebuah perjuangan yang sangat berat, yah beti (beda tipis) sama memperjuangkan gebetan.
Cepat atau lambatnya penyelesaian skripsi disebabkan oleh beberapa hal salah satunya adalah menunggu waktu bimbingan dari dosen pembimbing yang akan senantiasa membimbing. Tapi perlu dicatatat, meskipun seorang dosen pembimbing adakalanya dia salah, jadi tidak selalu yang dikatakan harus diikuti. Sebab dosen pembimbing adalah manusia yang tidak luput dari kesalahan. Sepakat kawan-kawan, udah sepakat aja dosen pembimbing masih makan nasi juga toh sama seperti kamu. Hehehe..
Berbagai jenis-jenis dosen pembimbing akan kamu jumpai. Ada dosen yang pengertian sama mahasiswa dengan menyediakan waktu bimbingan, tapi ada yang membuat janji ketemu saja sangat susah karena jadwalnya yang padat, juga ada yang jawabannya tidak pasti yakni ‘lihat besok’ dan masih banyak jenis lainnya.
Disaat melakukan penulisan skripsi, saya menemukan dosen pembimbing yang memiliki watak yang tidak pasti dan selalu memberi jawaban “lihat besok”. Hello, besok itu kan panjang bro, gak ada habis-habisnya. Pembimbingnya adalah dosen paling nyebelin, bagaimana tidak nyebelin satu minggu ditungguin supaya jumpa bimbingan. Bahkan pada hari ke tujuh sudah nunggu tujuh jam tau-taunya hanya disuruh meletakkan skripsi dimejanya. Lantas bilang paling lambat dua minggu baru bisa bimbingan. Terus setelah dijumpai dua minggu kemudian, dengan pogahnya menjawab “saya lagi sibuk, skripsinya belum diperiksa besok saja saya jumpai”. Plakk, pengen ditampar, dimaki, kalo gak diceburin kekali, eehh sadar lagi, sabar yah nak…!
Tapi lucunya jawaban ini hanya berlaku bagi sebagian orang. Tidak semua mendapat perlakuan yang seperti itu. Berbeda sama mahluk yang satu lagi yakni kaum hawa. Bagi kaum hawa, bimbingan pada dosen ini cukup menyenangkan. Sebab tidak usah menunggu lama kaum hawa dilayani dengan baik, bahkan akan meluangkan waktu sebanyak-banyaknya. Meskipun ada sebagian kaum adam yang dilayani dengan baik, tapi mereka adalah anak buahnya (mahasiswa yang sering bantu-bantu di kantor jurusan).
Bagi mahasiswa yang lagi bimbingan seperti saya, menunggu sudah menjadi hal yang biasa. Jadi, apabila ada pepatah menyatakan bahwa menunggu adalah kerjaan yang sangat membosankan, maka kupikir itu tak berlaku bagi mahasiswa tingkat akhir. Sebab, sudah sering menunggu ketidakpastian. So, menunggu itu itu bagi mahasiswa yang lagi bimbingan adalah berkah. Setidaknya dapat merasakan bahwa dia masih hidup, karena akan merasa kesal, marah, senang dan lain sebagainya.
Kamu yang lagi nyusun tugas akhir dan dalam proses bimbingan, pasti sering menunggu. Menunggu inilah, itulah dan tidak ada kejelasan. Hal ini juga sedang aku rasakan, ditengah tuntutan dari kampung untuk segera menuntaskan kuliah. Maklum hampir sudah dikatakan mahasiswa abadi, yah karena lama tamatnya. Jadi tuntutan dari mana-mana menyerang bagai bak kenangan. Ehk kenangan, sama siapanya. Kok jadi melebar gini yah..!
Ohk kembali lagi kata menunggu. Bagi saya dalam proses penyelesaian tugas akhir, sering mengalami kejadian menunggu didalam ketidakpastiaan. Bagaimana tidak, dosen pembimbingnya tidak punya jadwal yang pasti. Ketika dijumpai dan buat janji jawaban nya juga tidak pasti yakni “lihat besok”, lantas bimbinganpun gak jadi-jadi. Tidak sekali duakali lagi menunggu ketidakpastian ini, tapi sudah berkali-kali. Sampai-sampai ada khayalan angkat kamar kos ke kantor jurusan. Jadi, apabila dosennya datang kita sudah siap untuk bimbingan. Tapi apa daya semua hanya khayalan. Bimbingan tak jadi-jadi, terbengkalai karena pembimbing yang takpasti.
Bosan, sangat mungkin bahkan sampai-sampai kepikiran juga mengerjain dosen pembimbing supaya kekesalan ini terbayar. Tapi kelakuan itu adalah buruk dan tidak akan menyelesaikan masalah. Sehingga rasa bosan, kesal dan seluruh kerumunannya harus dikubur dalam-dalam.
Nah, apabila kerumunan itu lebih dominan disaat menunggu dosen. Ada beberapa trik yang saya lakukan. Biasanya sebelum berangkat kekampus, saya menyediain botol minum yang diisi dengan kopi yang telah diseduh. Jadi disaat menunggu saya selalu ditemani oleh kopi hitam yang setia. Saya juga selalu membawa buku dalam tas, jadi tidak ada alasan tidak melakukan apa-apa disaat menunggu. Makanya waktu menunggu diisi dengan membaca buku baik itu novel atau jenis lainnya. Tapi biasanya saya sih bawa buku novel biar ngak ngantuk.
Nah, ini trik terakhir yang biasanya saya lakukan apabila kedua trik diatas tidak sanggup melawan kebosanan yakni buka laptop. Dengan adanya laptop, berbagai kegiatan dapat dilakukan. Misalkan, menulis kejadian yang dialami saat itu pokoknya apa yang sedang dipikirkan deh. Selain itu jika pikiran juga mentok, tidak dapat mengeluarkan idea apa-apa. Maka jurus jitu yang digunakan adalah menonton. Jadi sebelumnya harus banyakin flim dimemori laptop supaya dapat memilih-milih apa yang disukai. Sehingga jika flim yang satu tidak bagus, maka boleh memilih flim lainnya. Sekian deh, celoteh dari mahasiswa tingkat akhir yang lagi menunggu ketidakpastian.!

Share:

No comments:

Post a Comment

Postingan Populer

Labels

Postingan Terbaru