Oleh
: pidong sigak
Secara umum manusia mengatakan bahwa sekolah bisa
membebaskan manusia dari belenggu, nyatanya malah masuk pada belenggu baru
yaitu belenggu sekolah. Pandangan ini
pun “membelenggu” dalam benak masyarakat karena memandang segala sesuatu nasib
buruk dapat hilang dengan menyekolahkan anak di sekolah formal walaupun
dengan biaya tinggi. Paradoks—yang
paling rumit dihilangkan dari benak masyarakat—ini diwarisi terus menerus tanpa
menyadari bahwa sekolah tidak hanya ada dalam Dunia Formal yang terlembagakan,
Sehingga Masyarakat menganggap Pendidikan hanya ada di dalam sekolah formal
itu.
Sekolah Formal telah mempersempit pandangan setiap
manusia untuk belajar, Karena meyakini belajar hanya ada didalam dunia tersebut.
Manusia terbebani akan makna sekolah yang membuat mereka lupa bahwa belajar
untuk diri sendiri dan dari pengalaman pribadi dalam ruang ruang tidak formal
bukan belajar. Hal ini mengakibatkan Nilai pasar untuk sekolah tinggi dan mahal
sebab masyarakat akan berlomba lomba menyekolahkan anaknya dengan harapan mampu
bersaing dan memperoleh hidup yang lebih baik.
Akhirnya masyarakat terjebak dalam ilusi mereka sendiri.
Harapan awalnya adalah untuk mengubah keadaan malah membuat mereka hidup dalam
ekspektasi yang tidak tercapai. Nyatanya sekolah tidak pernah menjamin masa
depan manusia, yang ada malah membawa ke ruang yang berbeda dari apa yang dimiliki
yaitu terasing dari ruang hidup mereka. Sebagai
contoh, seseorang pergi Sekolah
dengan harapan memiliki masa depan yang lebih baik, kemudian akan mengeluarkan
sangat banyak uang untuk itu. Kemiskinan yang selama ini di derita telah
membuatnya berekspektasi bahwa dengan sekolah bisa mengubah nasib.
Apa
Di Balik Sekolah ?
Kita dapat melacak asal mula kata sekolah dari bahasa
latin yaitu scola atau scolae yang berarti waktu luang atau waktu senggang.
Berarti dari pengertian kata ini bisa kita sebut bahwa sekolah tidak serumit
yang kita lakukan saat ini. Bahwa bersekolah dengan memakan waktu yang banyak,
les privat, kursus dan kurikulum telah bembunuh waktu luang pelajar. Artinya
sekolah telah berubah haluan menjadi sesuatu yang menyesatkan masyarakat. Sesuatu
yang menyesatkan itu maksudnya adalah ketika makna sekolah sebagai waktu luang
yang mampu membuat seseorang bahagia dan berkarya malah membuat mereka semakin
menderita dan membunuh daya kreasi. Manusia yang identik dengan penciptaan
gagasan-gagasan malah tidak memiliki gagasan baru yang bisa membebaskan manusia
dari belenggunnya sendiri—hal ini menjadi masalah yang terus menerus terjadi.
Sekolah mengaburkan maksud dari Pengajaran dengan
Belajar, Ijazah dengan Kemampuan, kefasihan Berceloteh dengan Keberanian
mengungkapkan sesuatu yang baru( ivan illich, 2000). Kekaburan membuat
degradasi sosial, yang akan menganggap sekolah sebagai jalan menuju masa depan,
menganggap Guru sebagai yang Maha Tahu, menganggap Ijazah sebagai kunci
memiliki masa depan cerah dan berceloteh adalah mencipta. Sekolah bukan lagi
sebuah jalan sunyi, tetapi telah menjadi pasar yang menciptakan ketakutan
ketakutan akan kehilangan masa depan.
Sekolah formal menjadi satu satunya penentu masa depan
yang membuat masyarakat semakin tergila gila pada sekolah formal. Masyarakat
tidak menayadari keadaan yang lain dari sekolah saat ini. Sekolah telah diatur
oleh kurikulum dan kurikulum telah diatur oleh kebutuhan pasar. Kebutuhan pasar
yang dimaksud adalah adanya arahan dalam dunia Pendidikan untuk mengarahkan
peserta didik sesuai dengan kebutuhan perusahaan-perusahaan.
Sekolah telah mengatur dunia pendidikan menjadi mesin penyedia
jasa pekerjaan. Indikator-indikator untuk penerimaan pekerja telah ditentukan
oleh nilai, ijazah dan tingkat usia serta kepatuhan. Setelah berhasil menyatu-padukan
persepsi masyarakat tentang sekolah sebagai jalan satu satunya menuju masa
depan, kesempatan menuju cita cita penyeragaman
sekolah menjadi media penyalur tenaga kerja tercapai. Sekolah formal
tidak mengisyaratkan peserta didik untuk menjadi manusia yang mandiri dan
memiliki daya cipta serta keinginan untuk berkarya bagi masyarakat.
Sekolah memiliki funngsi baru sebagai alat kontrol
pemikiran bagi masyarakat. Fungsi sebagai alat kontol adalah bahwa peserta
didik telah diarahkan untuk mencintai sesuatu yang bukan dari diri mereka
sendiri. Sekolah malah lebih fokus pada hal hal yang tidak substantif seperti
mencintai negara, mengejar cita cita, melarang pemikiran pemikiran tertentu,
menciptakan politik identitas dan menginternalisasi sistem politik busuk untuk
terus menerus diwarisi generasi muda. Kontrol kontrol ini menjadi kejahatan
terselubung bagi masyarakat yang pada akhirnya daya kritis dan daya cipta untuk
keluar dari persoalan persoalan dimasyarakat menjadi sulit dilakukan.
Dalam dunia sekolah, peserta didik dan pengajar telah
dipisahkan secara stuktur. Dalam keadaan ini pengajar menjadi sesuatu yang Maha
Tahu akan segala sesuatu. Menjadi sang pemberi nilai dan ilmu yang membuat
mereka secara struktur lebih tinggi dari peserta didik. Terpisahnya hubungan
ini melalui struktur telah membuat hubungan antar keduanya sebagai subjek dan
objek. Peserta didik menjadi objek yang tidak tahu apa apa yang kemudian di isi
sebanyak mungkin akan ilmu pengetahuan. Dalam kasus ini, bisa saja anak banyak
tahu dalam arti kepalanya penuh akan pengetahuan. Tetapi peserta didik akan
kebingungan dalam menerapkan ilmu itu di kemudian hari. Pada akhirnya hanya
mengetahui tanpa memahami dan ujung ujungnya malah menjadi anak yang patuh dan
memilih menjadi pekerja di perusahaan orang lain atau malah menjadi
pengangguran.
Sepertinya sekolah telah menjadi sarana yang memabukkan
dan telah menjadi sarana umum yang palsu( ivan illich, 2000). Sekolah seakan
akan mampu menjadi sarana yang melepaskan manusia dari belenggu dan memecahkan
persoalan sehari hari malah menjadi belenggu baru yang menyulitkan seseorang
keluar dari masalahnya. Hal ini disebabkan oleh sekolah yang menjauhkan manusia
dari kenyataan hidup yang dia hadapi. Sekolah telah memisahkan manusia dari
dirinya sendiri—dalam hal ini manusia mejadi teralienasi dari lingkungannya
sendiri. Sebagai contoh seorang petani menyekolahkan anaknya dengan harapan
memperbaiki hidup karena bertani susah. Kemudian anaknya sekolah, disekolah
anaknya malah diajarkan sesuatu yang tidak berhubungan dengan pertanian dan
bagaimana bertani yang baik, malah diajarkan sesuatu yang asing, sehingga
setelah selesai sekolah malah mengatakan aku tidak perlu lagi memegang cangkul.
Tetapi di ruang hidup yang baru si anak yang sekolah mengalami belenggu yang
sama, kesulitan untuk melangsungkan hidup dan malah menjadi buruh bagi orang
lain.
Kesimpulan
Di balik Sekolah yang ada merupakan Belenggu. Sekolah
telah menciptakan struktur kelas secara global, sekolah telah menjadi ajang
persaingan antar Manusia dan antar Negara. Negara kemudian menjadi pelaku utama
dalam penjalanan belenggu yang ada kemudian mengorbankan manusianya untuk masuk
dalam dunia persaingan yang membunuh daya cipta. Sekolah hanya dinilai dengan
semangat kemajuan. Kemudian sekolah dinilai dengan nilai mata uang. Semakin
mahal uang sekolah maka semakin tinggi kualitasnya( jika memakai teori foucoult
artinya adalah bahwa semakin mahal kau bayar uang sekolah semakin kau gampang
masuk dunia kerja yang mekanis tersebut). Kau hanya menjadi robot pekerja tanpa
menjadi seorang yang berdaya cipta. Bagi saya secara pribadi sebagai solusi
adalah merubah pandangan bahwa sekolah formal adalah jalan satu satunya, karena
jika pandangan ini masih dipakai maka kemenangan dari perusahaan raksasa adalah
memperoleh tenaga kerja murah meriah.
Kemudian sebagai ganti dari sekolah yang juga menjauhkan
manusia dari latar belakangnya adalah memberi kebebasan bagi setiap wilayah untuk
menciptakan sekolah sesuai dengan segala sesuatu yang mereka miliki dan
butuhkan. Sudah saatnya sekolah menjadi ruang belajar yang kreatif dan berdaya
untuk membebaskan manusia dari belenggu dan ketakutan kehilangan masa depan.
Pada akhirnya tidak ada hirearki jenjang yang membuat manusia berkelas kelas
dari sekolah yang mereka sandang.
Apakah hal ini bisa ? Tentu bisa, Apabila “Manusia elit”
menghilangkan egonya mengenai apa yang dibutuhkan oleh manusia dan masyarakat.
Selamat keluar dari belenggu yang membuatmu terasing ini!
Sumber-sumber:
Bebaskan Masyarakat Dari Delenggu Sekolah Oleh Ivan Illich
Pembelajaran Di Era Serba Otonomi Oleh Andrias Harefa
Pendidikan Kaum Tertindas Oleh Paulo Freire
Sekolah Kapitalisme Yang Licik Oleh Paulo Freire







Good
ReplyDeletethanksss
ReplyDelete